Halaman

KOTA CIREBON

Jumat, 04 Januari 2013

Tukang Kebun


Tukang kebun tak punya kebun
 “Makna pribumi tak lagi  berarti dengan suguhan mie instan”
25 november 2012

            Haerudin sebagai tukang kebun di Wisma Tempo Sirnagalih. Menggantikan tukang kebun sebelumnya pak Eman sekitar 4 tahun yang lalu. Pekerjaan tukang kebun bukanlah pertama di Wisma Tempo Sirnagalih saja, ia pernah menjadi tukang kebun di wisma-wisma lainya di sekitar Mega Mendung. Sebagai penduduk asli Mega Mendung, keberadaan wisma sangat membantu perekonomian bagi haerudin. Tukang kebun menyihir tanaman hijau dan rindang yang begitu menghampar di pelataran Wisma Tempo Sirnagalih terlihat tak membosankan mata untuk melihat tiap sudut ditempat ini. Bangunan wisma yang cukup tua dan merekam beberapa peristiwa menakutkan penuh kegilsahan tak terlihat  dari wisma, pesona senyum manis dan keasrian yang menyapa terhadap pengunjung yang datang di Wisma.
            Tanah seluas 2 hektar ini menjadi wadah penampung harapan-harapan orang akan berbagai kepentingan yang dikantunginya. Tempo menempatkan wisma ini sebagai berbagai kegiatan intelektual dan pergerakan jurnalis, para peserta KEM 2012 mengharapkan pembekalan wacana dan pisau analisis jurnalis yang baru dan progres. Namun harapan yang berpusat di aula itu tak begitu penting dan tidak perlu diketahui oleh seorang tukang kebun bernama Haerudin. Bekerja selama 4 tahun mengurusi perkebunan wisma bukan berarti ia ikut terpengaruh dengan kegiatan yang ada wisma. Apa yang menurut diruang aula sebagai ide besar dan harapan, ternyata di luar aula mempunyai ruang dan dunia ideal yang berbeda.  Ia hanya berharap agar rumput-rumput terlihat indah dengan warna hijau segar. Bergegas pulang untuk melihat sambutan istri membayangi tiap kali bekerja.
            Sebagai warga pribumi, ia tak mengerti mengapa harus membersihkan tanah orang lain dari tempat kelahirannya sendiri. Dengan wajah yang keriput dan berkepala 5 ia tak paham tanah-tanah yang sudah dikapling-kapling oleh villa, hanya menyisakan sepetak tanpa halaman untuk pak haerudin. Justru merawat dari tempat yang tak ada daya kuasa untuk dirinya. deru mesin rumput dijadikan sebagai music blues yang meneriakan dari harapan-harapan kecilnya. Sapu lidi yang menyapu sampah kering dedaunan tak mengingatkan akan profesinya sebagai tukang kebun tersubordinasi dan tersingkirkan dari pemikiran dominan modern.  Makna pribumi tidaklah begitu penting bagi pak Haerudin, ketika hal itu ditukar dengan uang kurang dari 600 ribu rupiah yang dibawa pulang kerumah. Cukup mengganti kata “pribumi” menjadi “mie instan”. Cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Walaupun 3 anak yang sudah berumah tangga semuanya juga kerap kali membantu masalah dapur.
            Ketika kebun di sekitar wisma dijadikan pemuas hawa nafsu mata akan imaji alam yang asri. Di sana juga tersiram cucuran keringat bertahun-tahun dari pak haerudin yang menjadi orang tua dari tanaman-tanaman yang ada. Pilihan ini dijalani dengan ketulusan sebagai bentuk kewajiban untuk mendapatkan hak perutnya. Ia bukanlah aktivis yang berbicara akan teori lingkungan. Apakah pak Haerudin termasuk sebagai pengambilan peran seperti akativis? Menurut mas Aat; ia dengan terang menegaskan sebagai pekerja tukang kebun mengambil peran dalam lingkungan hijau, dari pada aktivis lingkungan yang secara sembunyi-sembunyi mencari dana-dana proposal bocor tanpa ada tindakan riil. Pak Haerudin walaupun dia bekerja demi mendapakan uang, ia dengan tulus dan merawat tanaman. Karena tanaman perlu dirawat dan dibersihkan agar pertumbuhanya terjaga.  Etos kata kerja yang susah ditemui di papan tulis yang lepas dari dunia nyata. Di sini aku  temui apa arti kata kerja yang sesungguhnya.
            

Ahmad Wahib


Memakai etos Wahib
27 juli 2012
                Kebimbangan menghempas begitu kuat tanpa dorongan ataupun pakasaan. Saya dibuat untuk meragukan Tuhan, menagguhkan agama, khawatir kesesatan berpikirpun tak bisa terelakan. Namun disisi lain, keberadaan Tuhan menjadi sesuatu yang harus saya ketahui, agama normatif dengan kekauan ingin saya memberi bentuk agar lebih indah dipandang, berpikir bebas untuk melepas sebuah kemunafikan terhadap diri, agama termasuk Tuhan untuk kejujuran. Itulah yang saya dapatkan dari pemikran Ahmad Wahib yang tertuang dalam buku catatan hariannya memicu banyak pertanyaan dan kontroversi dalam pergolakan pemikiran kita sendiri. Jika dicermati, kebebasan berpikir Wahib jauh melampaui batas-batas kelaziman wacana pemikiran Islam dalam konteks masyarakat Indonesia pada saat itu. Wahib mempropagandakan ”kebebasan berpikir, ijtihad kolektif, dan pembaruan pemikiran Islam”.
                Ahmad Wahib lahir di Sampang, Madura, pada 1942. Wahib tumbuh dewasa dalam lingkungan yang kehidupan keagamaannya sangat kuat. Ayahnya adalah seorang pemimipin pesantren dan dikenal luas dalam masyarakatnya. Namun, Wahib berpikiran sangat luas dan terbuka tidak berpikir monoton dalam keislaman, apalagi dia kemudian di lingkungan pendidikan di Yogyakarta. Membuat pola pemikiranya mengkonsumsi dari pandangan sekuler yaitu marxis, demokrasi, dan sosial. Keintenan diskusi wahib dengan beberap kerabatnya seperti Djohan Effendi, Dawam Raharjo memberikan pengaruh besar dalam perjalanan keintelektualannya.
                Corak pemikiran Wahib kental dengan semangat keintelektualitasan dan kekuatan akal dalam berpikir bebas, apapun objek yang ditujunya. Sesuatu yang meronta-ronta dalam pikiranya, tidak bisa disembunyikan atau dibendung, Wahib ingin meluapkan itu semuanya agar tidak ada kepura-puraan. Dapat dilihat misalnya dalam catatannya, bagaimana dia mencurahkan kegilisah terhadap Tuhan dalam mendekatinya dengan berpikir yang dibatasi, “Sebagian orang meminta agar saya berpikir dalam batas-batas Tauhid, sebagai konklusi globalitas ajaran Islam. Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi. Apakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri? Saya percaya pada Tuhan, tapi Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan ada bukan untuk tidak dipikirkan “adanya”. Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik. Sesungguhnya orang yang mengakui bertuhan tetapi menolak berpikir bebas berarti menghina rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi, dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekedar kepura-puraan yang tersembunyi.” (hal 23)
                Dalam mengambil pemikirannya, saya akan mengambil salah satu etos berpikir Wahib dalam mengenal sosoknya. Sulit untuk menguraikan pemikaran Wahib secara perinci apa yang menjadi konsenya pada waktu itu. Buku harian yang menjadi sumber karya pemikirannya tentulah, sangat abstrak dan tidak teratur kerangka pemikiran hanya asumsi dan kebebsan penilaian yang akan kita persepsikan. Seperti yang sudah dikatakan diatas bahwa Wahib tidak lazim atau seperti lokomotif pemikiran yang jauh melampauinya, ia sudah membahas sekuler sebelum Nurcholish majid yang juga teman sejawatnya. Liberalism, sekulerlisme dan pluralisme yang terus disuarakan sekarang oleh tokoh-tokoh intelek muda sudah banyak dibahas oleh Wahib. Ada satu hal yang menarik dari beberap buah pemikiranya, yaitu bagaimana seorang Wahib yang menyandang title DO (drop out) di dunia perkuliahan. Masih sangat antusias sekali dalam mencari ilmu. Penyusunan kemasa depan dalam menggali disiplin ilmu ia pikirkan, terbilang ”rakus” juga wahib dalam masalah keilmuan.
                Pergolakan pemikiran sering menghantuinya ketika bersentuhan dengan agama dan Tuhan. Ada semangat berpikir keras Dalam tubuh wahib untuk memoles pengetahuan tentang agama. Ia membedakan antara Iman secara formil dan materil. Formal hanya sebatas iman akan keberadaanya secara keyakinan. Namun, materil bagaimana mengakses “keberadaanya” dengan mengetahuinya secara rasional. Bukan kemusrikan dalam beragama, saya teringat dengan perkataan Qurai shihab bahwa hanya hati yang menciptakan keimanan dan diperkuat dengan kekuatan akal akan pengetahuan. Kejujuran pemikiran begitu sangat ditonjolkan dari pertanyaan yang mengkabuti otaknya.
                Kebebasan berpikir dianggap sebagai sebuah eksisitensi dari Tuhan itu sendiri. Menyiratkan makna konotatif, bahwa ketika kita tidak berpikir bebas sama saja tidak mensyukuri akal yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Melepaskan baju dalam proses menggali suatu hal, menjadi kebiasaan wahib dalam mempelajari sesuatu. Ia menerima penularan dari segala yang ada diluar dirinya untuk sebuah proses menjadi dirinya. Ada kutipan yang mengatakan bahwa “ aku bukanlah islam atau katolik bukan juga hindu. Akau adalah semuanya…….” Penggalan kutipan dari catatan harian tersebut dapat ditafsiri, bagaimana sosok Wahib ingin menjadi dirinya dan berproses dan terus berproses menjadi dirinya sendiri.
                Itulah hal yang akan kita dapat setelah membaca buku kecil pergolakan pemikiran Ahmad Wahib. Bagaimana kita tidak diajak dalam pewacanaan wahib sendiri, namun lebih bagaimana kita diajak kepada mewahib, meaku. Keberanian pencarian dan pengembaraan diri akan dilepas bebas untuk mendapatkan kebenaran. Proses berpikir seperti ini yang kini menjadi sebuah ironis, kerap kali dianggap sebagai buah pemikiran sesat. Pemisahan ranah hati dan pikiran menjadi kabur, hal transenden dan imanen dicampur adukan menjadi kesucian batu. Pemikiran umat islam akan hanya mencari kebenaran yang sudah tercipta dari akar kesejarahan, retroprespektif. Sedangkan pemikiran akan pencarian kedepan sangat jarang kita temukan dalam umat muslimin, prospektif. Mungkin inilah banyak tokoh muslim seperti arkoun yang sadar akan kebekuan teks.
                Sebagai hamba Tuhan yang ingin menyingkap segala pengetahuan tentang Tuhan, tentunya akan mencari pengetahuan itu dan jika ada batas maka akan cari sejauh mana batas itu malang melintang. Teruslah berproses dan proses tak pernah berujung itu akan mendekatkanmu kepada Ketidakberhinggaan. Keberanian pribadi wahib kini sudahlah tiada berjasad lagi, jasadnya mati mendahului namanya namun karyanya catatan harian ini tidaklah akan tetap hidup. Ini mengingat kita kepada aktivis muda Soe Hok Gie yang juga meninggal muda dan dikenal lewat tulisan catatan harianya. Tokoh-tokoh tidak besar dan dikenang jika tidak mempunyai karya tulis, umur bukanlah ukuran kebesaran, maka untuk temen-temen semua mari kita berkarya mulai dari kemudaan yang masih tersandang dalam diri kita. Pada tanggal 30 Maret Wahib ditabrak sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi di persimpangan Jalan Senen Raya-Kalilio, Jakarta. Saat itu ia baru saja keluar dari kantor Majalah Tempo, tempat di mana Wahib bekerja menjadi calon reporter.
*masih belum selesasi, bersambung dulu yaaaa……         

Kebebasan beragama


Keberagaman menuntut Kebebasan
12 mei 2012

Pemahaman terhadap perbedaan pandangan masih belum dipahami sebagai suatu hal alamiah oleh beberapa orang di sekitar kita. Padahal perbedaan diantara individu satu dengan yang  lainya adalah hal natural. Karena individu sebagai mahluk ciptaan Tuhan dianugerahi pikiran dan hati memiliki keunikan yang berbeda satu sama lain. Imajinasi selalu setia menemani kita dalam memproyeksikan dan mereflesikannya dalam bentuk riil. Ketika ada sebuah pemaksaan oleh pihak lain untuk “menyamakan” dari “perbedaan” pemikiran sangatlah lucu. Kiranya patut kita pertanyakan, apakah ini manusia benar-benar manusia ataukah kalau kita bedah kepala dan dadanya berisi ikatan kabel-kabel dan chip seperti robot ? Pemikiran akan menjadi sebuah kontroversi besar jika bersentuhan dengan agama atau kaum agama sengaja menyentuhkan pada wilayah tersebut.
Masih kita ingat tanggapan segelintir ormas islam yang tidak setuju akan konser Lady Gaga di Jakarta karena “embel-embel” ada simbol kafir. Apa hubungannya seni musik dengan agama? Haruskah ditarik semua persoalan pada agama, apalagi agama yang menurut kaum ambisisus dan egois. Memang terlalu memaksakan libido keagamaannya yang tak tertampung itu. Tersirat dalam pikiran kita bahwa beragama kurang sempurna jika belum melarang dan mengkafirkan. Padahal pewartaan agama pada awalnya bukan hanya bertindak sebagai juru dakwah, namun sebagai pejuang dan pembela kaum tertindas. Mungkin telah terjadi pergeseran orientasi setelah berabad-abad agama dilahirkan, sekarang pewarta agama malah menjadi pewarta korup untuk mengambil alih justifikasi Ilahiah.
Jika persoalan justifikasi sudah menjamur dikalangan pewarta agama seperti menarik hukum Tuhan untuk turun kebumi dan memperebutkan klaim kebenaran satu sama lain. Akankah mungkin agama dapat hidup harmonis tanpa adanya kebebasan, inovatif dan imajinatif ? Tentunya, menjadi barang yang sangat menakutkan bagi keberadaan manusia sebagai mahluk yang merdeka, jika peperangan justifikasi terus dipertontonkan. Memang kebebasan bukanlah suatu yang mudah, ia merupakan beban yang menuntut tanggung jawab individu. Kahlil Gibran pernah mengatakan bahwa tidak setuju akan kebebasan berbuat simbol, sebaliknya dia menyadari bahwa manusia benarbenar terbatas akan tindakan fisiknya. Satu-satunya kebebasan yang diterima adalah kebebasan berpikir.
Ada sebuah celah yang mendapakatkan tempat “benarbenar” bebas dan tidak dapat dihalanghalangi. Walaupun kita dibuang ke pulau terpencil, tangan diikat, mulut dibungkam, namun pemikiran tetap dalam cengkraman. Mungkin masih banyak sekali pikiran dan pertanyaan dalam diri kita yang belum sempat untuk diletupkan ke atas permukaan. Untuk mendorong pada ranah pertanyaan-pertanyaan yang lebih luas, tentulah wajib formulasi hadir
dipikiran kita. Pada tahap selajutnya pikiran dan pertanyaan akan samarsamar menuntut lahirnya formulasi baru dalam pikiran kita. Namun Kerapkali kita masih memunafikan apa yang ada dalam perasaan dan pikiran untuk diformulasikan karena ketakutan akan sebongkah ymbol aturan membayangi mindset. Diperlukan keberanian kebebasan berpikir, mengeluarkan uneg-uneg dengan terus terang  tanpa ketakutan sedikitpun termasuk kepada Tuhan sekalipun.

Pluralisme


ISLAM INDONESIA; TANPA DISTORSI OTENTITAS
Muhamad Isomuddin

Wajah keberagamaan (Islam) dalam masyarakat Indonesia memiliki kekhasan akan ajaran agama yang dikemas dengan budaya lokal sekitar. Pemeluk agama Islam di setiap daerahnya mempunyai cara peribadatan yang berbeda-beda pula. Menambahkan warna perbedaan, setelah dalam Islam juga ada mazhab-mazhab yang menjadi pedoman syariat. Berpelukanya ajaran dengan budaya secara harmonis di Indonesia berjalan tidak begitu mulus lagi. Ketika pemahaman akan pengembalian keotentitasan Islam di Indonesia sudah jauh dari “kesucian”. Budaya yang cenderung akan melahirkan bid’ah, sudah jauh dari Islam yang sebenaranya.
Sebuah sistem yang mencita-citakan Islam sebagai agama lengkap (kaffah), sempurna (kamil) dan meliputi segala sesuatu (syamil). Memberikan penilaian terhadap muslim Indonesia yang telah berakulturasi dengan budaya dan sistem sosial-politik serta mengakomodasi itu semua. Dianggap telah kehilangan Islam yang benar, ideal dan otentik dalam ajaran agama. Otentitas Islam adalah dengan cara mengembalikanya pada asal dan mengembalikanya pada teks suci yang telah diturunkan oleh Allah SWT. Rupanya cita-cita seperti ini tidak berhenti pada pergulatan gagasan saja namun, telah menyerupai gerakan-gerakan militan yang bermain pada level praksis. Terlihat dengan munculnya perda-perda syariah di daerah (terlepas dari pro-kontra yang ada) penerapan perda merayapi elemen-elemen bangsa ini. Budaya lokal semakin diasingkan dari eksistensi identitas masyarakat pribumi sendiri. Banyak perda di daerah dan budaya lokal terasa terkoloni tanpa harus saya sebutkan satu persatu. Dalam argumentasi nalar tentang Islam sebagai agama yang murni, mungkin argumentatif pertama adalah Islam sebagai agama yang final; ajaran Islam dianggap tidak berubah—ketidakberubahan dan Islam dipandang sebagai agama yang mandiri, bisa berdiri sendiri tanpa serapan lain diluar islam.
Pendistorsian akan klaim otentitas agama Islam ini sedikit absurd akan  pemahaman yang literal terhadap teks dan menggelitik untuk bertanya, apakah ada agama otentitas, murni dari Tuhan? Apakah ajaran atau wahyu merupakan sebuah paket utuh dari langit?  Apakah al-Quran dari Tuhan itu tidak membutuhkan budaya manusia sebagai objek yang ditujunya? Haruskah budaya yang tidak lahir dari kehistorisan Islam itu dimusnahkan? Bisakah budaya yang toleransi, bijaksana dan ramah bisa hidup sejajar dengan “Islam otentik”? Lebih dari itu, bagaimana Islam yang otentik itu di tegakan dengan mengkoloni yang lain? Bukankah Islam sebagai agama yang Rahmatan Lil Alamin? Perlu kita analisis sedikit tentang agama dari Tuhan yang “otentik” itu.
Islam yang hadir di tengah-tengah masyarakat Arab yang membawa misi pembebasan. Masyarakat Arab yang hidup dalam ruang dan waktu sudah berbeda pada saat ini, tentunnya tidak bisa kita pindahkan begitu saja hasil dari abad 7 ke abad sekarang.  Memahami konteks kehistorisan al-Quran merupakan keharusan bagi mereka yang ingin mendapatkan makna al-Quran secara obyektif. Dengan demikian, kita dapat mengetahui aspek-aspek dalam al-Quran yang bersifat universal-eternal dan aspek yang bersifat partikultural-temporal. Al-Quran yang lahir di Arab banyak melakukan dialog dengan konteks Arab itu sendiri, karena Islam bukanlah paket samawi yang lahir dari ruang hampa. Islam adalah agama yang lahir dari hasil dialektika kehendak Tuhan dengan kebudayaan.
Kenyataan bahwa al-Quran adalah jawaban bagi masyarakat Arab, dapat dilihat dari deskripsi tentang gambaran surga. Masyarakat Arab yang hidup di Padang pasir gersang, tentunya sangat mengidamkan akan kehijauan dan kerindangan. Deskripsi surga yang memang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Mungkin kalau ingin bertanya agak nyeleneh namun, bisa menguatkan argumen di atas. Kenapa dalam al-Quran hanya membahas agama Yahudi dan Nasrani saja atau sedikit tentang Zoroaster? Padahal agama di negara lain juga sudah ada. Ini semakin menguatkan bahwa al-Quran sebagai peresponan ilahi terhadap sosial sekitar Arab saja. Walaupun kita nampaknya yakin bahwa nilai dalam al-Quran adalah universal.  Itulah sebabnya mengambil makna secara literalnya sama saja menghancurkan nilai universalitas al-Quran.
keliruan dalam melakukan generalisasi keontentikan kerap kali terlihat dalam bentuk klaim-kalaim apologetik yang sering muncul dari kalangan muslim puritan. Banyak orang muslim menjadi gagap. Ketika dihadapkan antara Islam dan tradisi Arab dengan demarkasi moral dan ideologi yang sangat kontras. Banyak terkait dengan tradisi Arab yang kemudian diadopsi oleh Islam. Hasan Ud-Din Hasyim menyimpulkan bahwa banyak hukum-hukum pidana dan perdata seperti yang biasa ditemui dalam kitab fiqih, merupakan keberlanjutan hukum yang ada pada tradisi pra-Islam. Pemfilteran dan modifikasi yang sebelumnya sudah ada kemudian diintegralkan menjadi bagian dari Islam.
Penafsiran-penafsiran akan teks akan agama denga melihat sosio-historis sangatlah penting dikaji. Agar pemahaman akan teks tidak terjerumus pada kulitnya saja namun, semangat teks itu sendiri yang harus diketahui sebagai nilai intinya. Dalam pandangan kaum yang lebih menonjolkan sisi eksotorik dari pada esotoriknya, akan menimbulkan kerigitan hukum. menurut Ulil Abshar bahwa kaum fuqoha lebih memenangkan atau mendahulukan hal yang eksotorik dari pada makna. Berbeda dengan kalangan sufi yang berani menembus prosedur-prosedur eksotorik beranjak pada hal esotorik. Wajarlah kalau kalangan ini lebih toleran terhadap budaya lokal. Fakta sejarah yang sampai sekarang masih diyakini kebenaranya bahwa Islam masuk ke jawa tidak melalui langsung dari Arab tapi melalui persinggahannya di India. Oleh karena itu sebelum masuk kenusantara khusunya di jawa Islam sudah akrab dengan Hindu dan Budha. Asimilasi budaya antara Islam dan unsur-unsur lokal India inilah menurut Mukti Ali telah mempermudah proses Islamisasi di Indonesia. Ini juga tidak terlepas dengan peran kaum yang bersifat inklusif dalam agama. Seperti yang sudah di kutip diatas, kaum sufi yang sangat toleran dan berani melewati tafsir ke arah yang esotorik.
Penyebaran Islam di tanah jawa mudah di terima oleh masyarakat luas, karena proses dialogis antara ajaran agama dan budaya lokal ini. Intertekstualitas yang diperkenalkan oleh Julia Kristeva sebagai lanjutan dari proses dialogisnya Mikhail Bakhtin, rupanya diterapkan Wali Songo dalam menyabarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Media yang di gunakan oleh para wali pada saat itu menggunakan budaya jawa, contohnya dalam penyebaran menggunakan wayang, penggunaan bahasa sebagai pemahaman yang mudah pada masyarakat jawa seperti sunan kalijaga dengan tembang lir-ilirnya, ritual-ritual hindu (tahlil) dikemas dengan ajaran Islam itu sendiri. Penggunaan simbol dalam rumah ibadah masjid demak yang mengadopsi budaya arsitek bangunan dari rumah ibadah Hindu. Penggunaan media budaya dalam memasukan agama kedalam masyarakat, merupakan senjata ampuh dalam hasil penyebaranya. Karena masyarakat dapat mudah menghayati dan memahami akan ajaran islam itu sendiri secara akrab.
Dalam bukunya islamic modernism Muhamad Syahrur merumuskan hukum Islam kedalam dua batas; batas atas (had ‘a’la) dan batas bawah (had al adna). Dalam dua batas ini manusia diberikan kebebasan untuk berkreasi dan memilih hukum yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang dibutuhkan. Masyarakat Indonesia yang mempunyai kebudayaan lokal tersendiri, bisa berdampingan dengan agama Islam dan tetap menjalankan tradisi yang ada tanpa harus menghapuskanya. Penerapan porsi aspek Islam yang Universal-eternal dan pertikultural-temporal sangatlah berpengaruh pada pengembangan Islam masa depan. Jika porsi universal-eternal lebih besar, maka membuka peluang kalangan-kalangan puritan yang mempersempit budaya lokal. Sebaliknya, semakin besar porsi partikiultural-temporal membuka kalangan muslim yang akomodatif terhadap budaya lokal. Dengan itu Indonesia akan tetap pada khitohnya sebagai masyarakat yang kaya akan budaya dan masyarakat yang toleransi, menghargai dengan berpegang teguh pada asas Bhineka Tunggal Ika.

Direktur UKM
Central Study Of Philosophy And Culture (CSPC)
IAIN SYEKH NUR DJATI CIREBON

Syair Tanpo Waton


 Syair Tanpo Waton
Oleh; Muhamad Isomuddin

“Kita butuh kemabukan untuk mencapai pesan dalam penandaan”
                Sebuah karya satra dapat kita temukan tanda-tanda yang memiliki makna tersembunyi. Oleh sebab itu, perlu kita temukan dan ceritakan apa yang tersembunyi dibalik tanda bahasa yang ada. syair tanpo waton ini pun dapat ditinjau lewat semiotika untuk memahami apa yang ada dalan teks maupun luar teksnya. Bahkan isi syair sendiri representasi dari perasaan dan pikiran sang penyair atau hasil dari visual mata yang menyaksikan fenomena sekitar. Semakin berwarna mengartikan syair dengan mengenali tanda-tanda yang ada dengan meminjam semiotika. Penyampaian syair dengan menggunakan media musik menambah keindahan suatu karya, efek kemabukan dari musik akan membawa kita pada dunia atas sadar
Syair tanpo waton masih sulit untuk melacak kevalidan akar kesejarahanya, siapa pencipta syair, kapan mulai dinyayikan dan di mana dinyayikan. Menurut Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang, KH Marzuki Mustamar, yang mempunyai forum pertemuan rutin bertajuk “Cangkru’an Gus Dur”, mengaku ikut mengembangkan shalawat ini. Ia pun yakin, yang melantunkan syi’ir itu benar-benar Gus Dur. Lantunan syair tanpo waton mulai populer setelah beberapa bulan setelah Gus Dur meninggal akhir tahun 2010 (sumber NU online). Terlepas dari siapa pelantun syair tanpo waton, ada yang perlu kita pahami akan makna yang ingin disampaikan. 
Manusia tak dapat terlepas akan kebutuhan pemenuhan emosi dan sekaligus mengekspresikanya, sebagai bentuk pemecah ilusif yang ada. Musik merupakan pemenuhan kebutuhan manusia itu, disadari atau tidak kita sering menuangkan ekspresi itu, seperti bersiul atau dengan bernyanyi. Sulit kiranya untuk mendefinisikan musik secara detail, apakah musik merupakan satuan irama yang terorganisir berpedoman pada aturan khusus, sehingga menghasilkan suara yang harmonis? Karya-karya Beethoven yang seringkali mengeksplorasi paduan kord-kord harmoni yang tidak biasa, menunjukan bagaimana musik tidak harus menurut pada suatu peraturan. Kita tidak akan terlarut lama pada pemaknaan spesifik yang sulit, namun yang terpenting adalah tujuan musik sebagai  penyampaian emosi tersebut.
kita selalu mencari representasi perasaan kita di dalam musik, sebagai  pemenuhan harapan atau terbawanya emosi akan musik yang didengarkan. Pesan yang tersirat di dalam irama atau bait lagu dapat dengan mudahnya kita pahami tanpa harus melogikanya sekalipun, karena musik adalah intuitif. Sederhananya, kata yang ditulis dalam sebuah lirik berasal dari teori atau pengalaman jiwa yang sebenarnya begitu rumit dan sulit dipahami jika tidak diiringi dengan musik. Pesan yang ada dalam syair tanpo waton merupakan kata-kata yang biasa kita dengar dalam pengajian kuping dan dengan banyaknya teori yang ada di dalamnya tak cukup diselasaikan dalam 10 sks. Pesan dalam kata-kata itu tidak terlalu berat untuk menalarnya, namun tidak mudah langsung masuk dalam kesadaran pemahaman kita.
Kata-kata yang mengandung makna dalam syair tanpo waton  dengan begitu mudah masuk dalam kesadaran pemahaman dan menggetarkan jiwa dengan cara mendengarkan lantunannya. Bukan permasalahan siapa yang melantunkanya, karena hal itu juga masih ada beberapa versi dan kontroversi. Namun, hal ini merupakan permasalahan kata-kata yang terartikulasikan, merupakan tanda emosi dan kesungguhan. Makna yang luas dalam syair tidak tereduksi hanya dalam sebatas kata-kata. Sebagaimana Griel Marcus uraikan, “kata-kata adalah bunyi yang bisa kita rasakan dahulu sebelum menjadi peryataan-peryataan untuk dipahami’’. Penyampaian dari kata yang tersusun berbait-bait akan menggetarkan jiwa dengan melantunkanya, dibandingkan jika kita hanya membacanya atau mendengarkan khutbah. Ini mengingatkan kita pada Roland Barthes yang disebut dengan “butir” suara, komponen suara dalam melantunkan kata-kata. Dengan itu kita akan mendapatkan kesenangan akan apa yang didapat (sifat-sifat esensial dari makna).
Dalam bait pertama syair tanpo waton “ngawiti ingsun ngalaras syi’iran”, memulainya dengan menembangkan syair. Kalau saya tafsirkan, ini sebagai kunci pembuka wacana yang ada pada bait selanjutnya, maksudnya dengan lantunan wacana itu akan mudah masuk dalam kesadaran pemahaman. Karena lantunan atau yang saya sebut juga sebagai musik ini, menimbulkan efek kemabukan dimana tak ada jarak lagi, sekat-sekat, tidak terkungkung terhadap perbedaan etnis, ras dan agama. Musik memang transenden, melampaui segala perbedaan dan menyampaikan persamaan rasa yang dialami oleh setiap orang. Ini memberikan kemudahan kita untuk memahami isi dalam syair tersebut, mungkin musik ini sama dengan kata-kata teologis “undzur ma qola wala tandzur man qola” untuk memahami sebuah pesan.
Dalam lirik syair tanpo waton yang mempresentasikan tentang kehidupan dengan isi mengenai  Tuhan, keilmuan, kemanusian, agama dan  kematian. Dicermati bait-bait yang ditulis ini, terstruktur mulai dari keTuhanan sebagai pembuka dan Kematian sebagai penutup. Kembali mengingatkan pada Ferdinand Saussure tentang  prinsip semiotika signifikasi, semiotika pada tingkat langue. Dalam kerangka langue, sausure menjelaskan tanda sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari dua bidang, yaitu bidang penanda (signifier) untuk menjelaskan ‘bentuk’ atau ‘ekspresi’ dan bidang petanda (signified) untuk menjelaskan “konsep” atau “makna”. Relasi-relasi antara penanda dan petanda inilah yang memungkinkan pesan dikomunikasikan dari seseorang kepada orang lainya.
Penggalan kata “Tuhan” yang terdapat dalam bagian pembukaan syair, merupakan hal yang sesuai sebagai syair mengandung tentang nasihat. Indonesia khususnya merupakan masyarakat yang mayoritas  bertuhan. Sehingga nasihat yang akan disampaikan dalam kandungan syair lebih mudah diterima dan dipahami secara utuh. Karena kata Tuhan yang ditempatkan pada awal ini, menimbulkan gambaran akan isi yang disampaikan merupakan nasihat yang sakral dan istimewa. Proyeksi akan gamabaran Tuhan memberikan efek Ketertundukan masyarakat atau setidaknya menimbulkan sikap ”diam” sejenak untuk mendengarkanya dengan konsentrasi. Menghilangkan sikap prejudice yang membuka secara lebar-lebar hati dan pikiran tanpa ada pengafirmatifan dan penegasian sebelumnya.
Dengan pembukaan “menetralkan” suasana pada objek, wacana selanjutnya sebagai isi tentang keilmuan, agama, keiklashan dan humanisasi akan terima sebagai sebuah insight. Kemudian dalam penutup syair ini menyinggung masalah kematian, semakin memperkuat syair ini “melumpuhkan” orang. Kematian merupakan hal yang ditakutkan atau juga ada sebuah cita-cita akan kematian tersebut. Dalam kutipan kata “ utuh mayite ugo ulese” inilah yang merupakan gambaran cita-cita kematian yang khusnul khotimah. Tawaran akan kematian yang baik ini akan hadir jika melakukan seluruh isi atau nasihat dalam syair. Tanda-tanda yang digunakan dalam syair tanpo waton, merupakan aspek-aspek yang fundamental pada sisi manusia. Ketuhanan dan kematian merupakan simbolitas yang dapat mempengaruhi secara efektif akan maksud yang dituju.
Kehidupan selalu dibayangi oleh tanda-tanda yang memiliki pesan tersembunyi dan sulit untuk diterima. Pembahasaan yang kadang tidak selalu terverbalkan dan terkomunikasikan dengan jelas, mengolak-alikan otak untuk berpikir melogikakanya. Meskipun tanda menyiratkan pesan yang jelas, kerap kali sulit untuk masuk dalam sebuah insight. Melalui petanda kepekaan hati nurani manusia yaitu musik, pesan tidak harus dipahami secara rasional ia menekankan bahwa musik merupakan pengalaman secara intuitif, diresapi tanpa perlu kita cari penjelasan logisnya bagi Schopenhauer. Entah, apakah ini semacam diskursus filsafat sesungguhnya sudah patah, dipatahkan oleh nada-nada ritmis-dramatis. Dalam musik kita menemukan apa yang dielu-elukan Socrates. Musik itu indah, di dalamnya terendap kebenaran, dan melaluinya manusia terbebaskan. Lirik menggunakan diksi simbolik bagian dari kesedehanaan kata akan keuniversalan makna atau word hermeneutic tanpa harus mereduksinya. Karena itu, tak salah jika kita mengtakan bahwa musik adalah transenden, melampaui “tirani kata dan makna”.

*Mahasiswa Akidah Filsafat IV
Dan direktur centre study of philosophy and culture (CSPC)

Kampus ku


Ambiguitas Dramaturgi Diskursus Kampus
Oleh: Muhamad Isomuddin
23 Maret 2012

lama kita berjalan menyusuri lorong kampus yang cukup megah dengan pandangan buta. Tak melihat di kampus itu terdapat mahasiswa, dosen dan guru besar yang disebut sebagai agent of knowledge. Ataukah mungkin kita lupa bahwa kampus mempunyai fakultas, jurusan, UKM yang menjadi sarana mengkaji keilmuan sebagai suatu system akademik formal. Yang bisa kita lihat hanyalah beton kekar akademik formal tanpa besi keintelektualitsan yang mengokohkanya. Keintelektualitasan di dalam kampus rupanya belum mampu mencapai kesadaran ontologis intelektual yang melampaui berbagai formalitas, pragmatis dan system.
Pertunjukan dramaturgi kaum intelektual di kampus, rupanya begitu gencar untuk dipertontonkan pada khalayak umum. Layaknya kejar tayang dalam sebuah sinetron, sisi peran front stage begitu dikedepankan sebagai sebuah topeng ilusi keberadaan. Terlihat dengan kegiatan mahasiswa yang penuh dengan agenda ceremonial (pelantikan, penerimaan anggota, seminar dan pemampangan bendera) tercantum sebagai program  kerja utama. Ironisnya, sisi back stage yang seharusnya menjadi nilai pokok identitas malah menjadi rapuh bahkan tak pernah diperhatikan. Pembekalan keintelektualitasan terhadap individu pada wadah yang ada, sudah dikesampingkan atau dilupakan proses inti hanya untuk tujuan dominan eksistensi.
Perlu kiranya kita menilisik keadaan-keadaan tersebut sebagai analasis kelindannya wahana diskursus di Kampus. Apakah wahana diskursus sudah ada sebagai cerminan dari kaum inteletual? Ataukah kita tak sadar akan ambang batas dramaturgi kita kita perankan sendiri?. Mungkin ada sebuah kekeliruan ideologis dalam pertunjukan yang diperankan penghuni kampus untuk menciptakan sebuah ruang diskursus. Obsesi untuk menunjukan keberadaan akan sebuah gengsi, rupanya menjangkiti kaum intelektual di sekitar kita. Tak begitu sembrono kalau kaum intelektual di kampus kita, disamakan dengan kaum hippies. Dimana ramai akan sebuah acara ceremonial, tak mau ketinggalan untuk mengadakan hal serupa, cuma karena untuk pembuktian persamaan.
Pembangunan kerajaan untuk diri sendiri terus digencarkan untuk mengejar pengakuan persamaan tanpa adanya dialog lintas kerajaan yang membentuk kekontradiktifan yang terdapat sebagai formasi diskursif. Sebaliknya usaha-usaha yang dilakukan untuk menghilangkan kekontradiksi-kontradiksi untuk menggambarkan ide yang keheren dan kontuinitas. Suatu kontradiksi merupakan fitrah eksistensi, sebagai dasar lahirnya diskursus, kontradiksi ada sebagai sebuah dialektika pengetahuan dan kebenaran. Sayangnya, yang muncul dalam permukaaan cukup mewarnai dunia intelektual di Kampus hanyalah pergulatan kepentingan politik antar bendera. Sesuai dengan prinsip kontestasi yang didefinisikan oleh Blanchot. Diskursus dalam kaum intelektual dengan kontradiksi pewacanaan tidaklah mengafirmasi ataupun menegasikan. Yang membawa pada sebuah batas-batas, dari sang bataslah keputusan ontologis tercapai.
Redupnya diskursus kaum intelektual menempatkan pada posisi ambigu terhadap kita semua sebagai objek ilmu pengetahuan atau sebagai subjek yang mengetahui. Sebagai contoh kecil, ketika kita melihat sebuah buku tebal saja sudah mempunyai pikiran yang bermacam-macam persepsi (pusing, susah dan kapan selesai dibacanya) terhadap buku yang belum dibaca. Hal ini merupakan ketakutan kekanak-kanakan yang masih bercokol dalam mindset kita. Apalagi untuk beranjak pada ruang diskusi akan mendapati hambatan menyerupa tembok cina. Imajinasi yang begitu memenjarakan atau pengetahuan begitu menguasai diri kita, sehingga dengan mudah diri kita dikendalikan atas kekuasaan. Penguasaan ilmu pengetahuan terhadap manusia sebagai objek melunturkan peran manusia sebagai subjek yang mengetahui.
Ruang diskursus yang ada di kampus terus digerogoti permasalahan yang tidak tunggal. Fenomena pertukaran dunia keintelektualitas dengan ekonomi sangat kentara adanya dan sekaligus mengalami sebuah kerancuan makna. Karena tidak semua pertukaran adalah proses komunikasi. Adanya pergeseran nilai guna menjadi nilai tukar di dunia keintelektualitasan, berkonsekuensi logis dengan sikap pragmatis terhadap kaum intelektual. Proses dialog keilmuan digantikan dengan konsolidasi materi keuntungan individual akan semakin akut dilakukan secara kontiunitas, akan berakibat pada matinya sebuah budaya.
Peranan front stage jelas terlihat sebab dan untuk tujuan apa begitu dipertotonkan kearah depan panggung. Gejala-gejala krisis ideologis pada diri kaum intelektual terkikis habis karena adanya pergeseran nilai dalam keilmuan menjadi sebuah komoditas. Sisi back stage dianggap tidak penting untuk diadakan pada depan panggung. Maksud dari back stage adalah suatu identitas asli pada sisi yang sebanarnya. Suatu organisasi pastilah mempunyai kegiatan intern untuk tujuan pembakalan individunya atau bahkan mempunyai misi. Namun, proses untuk membentuk identitas asli yang mempunyai karakter tersendiri yang khas, sehingga membentuk sebuah pola karakter yang satu dengan yang lainya berbeda.
Pementasan dramaturgi di kampus nampaknya cukup untuk kita tonton telalu lama. Peran acting sinetron yang menimpa kaum intelektual hanya untuk mencari sensasi, merupakan sebuah keironisan dari rapuhnya fondasi keintelektualitasan. Kesibukan yang ada pada diri kaum intelektualitas adalah kegiattan yang berkonsen pada ranah eksotorik saja. Dapat kita lihat aktivitas yang ada di kampus diluar perkuliahan akademik sangat keringa adanya. Diskusi kelas tanpa dingding jarang kita temui di ruang lingkup sekitar penghuni kampus. Disadari atau tidak hal ini merupakan kemandegan dari budaya keintelektualitas sendiri karena informasi tidak dikonsumsi secara berkelanjutan hanya mandeg pada satu titik saja.
Menghidupkan budaya keintelektualitasan yang dipenuhi dengan ruang-ruang diskursus dilandaskan pada kesadaran masing-masing individu. Awal kasadaran individu yang menginformasikanya kepada individu yang lain ini akan membentuk signifikasi yang dapat dikomunikasikan secara actual. setiap orang yang ‘sadar’ mengetahui sesuatu pastilah ingin mengetahuinya karena ingin melakukan sesuatu. Jika dia menyatakan bahwa dia ingin mengetahuinya hanya karena ingin ‘tahu’ belaka. bukan karena ingin berbuat. Itu berarti di ingin mengetahuinya tanpa berbuat apa-apa. Membiarkan dunia sebagai mana adanya atau sebagai mana yang dia bayangkan sendiri. Hal serupa adalah sikap orang yang memunafikan diri, ingin lari dari duduk termenung.
pandangan nalar kita seolah berimajinasi bahwa kampus merupakan ruang dialektika keilmuan yang progresif dan menggairahkan. Namun pemberhalaan peran front stage penghuni kampus untuk menunjukan eksistensi untuk suatu komoditas menyiratkan ‘krisis ideologis’, nampak kita mesti mengkaji ulang persepsi kita. Bukan sebuah utopis jika kita berharap kampus menjadi kawah ‘candra dimuka’ bagi kaum intelektual yang memang menjadi tumpuan bangsa. Menghidupkan ruang diskursus dalam dunia kecil keintelektualitasan merupakan hal yang tak bisa ditawar lagi. Mahasiswa, dosen dan guru besar yang disebut sebagi kaum intelektual di kampus, secapatnya harus sadar akan dosa pengabu-abuan keilmuan yang diperbuat. Agar konsep dialektika untuk membentuk sebuah wahana diskursus pada lorong-lorong kampus bukanlah hal yang utopis, fungsi dan peran kampus kembali pada proporsinya sebagai wahana diskursus keintelektualitasan. 

Nietzsche sepintas


Akar Terbakar Untuk Abu yang Menjanjikan
Oleh : Muhamad Isomuddin

“Kita akan berjalan diantara mayat-mayat
yang bergelimpangan—lengkap dengan harumnya”

Bangunan penuh dengan simbol-simbol penuh makna kesakralan, orang bertopi kecil menenteng al-Kitab, rumah Tuhan itu begitu di agungkan. Ratusan orang ingin mengobati kegelisahan dengan memohon kesucian atas dogma yang dilepaskan dari tentengan pendeta. Propaganda kesalihan dan ketertundukan terhadap ucapan-ucapan “suci” yang sudah termaktub dalam al-Kitab, terus dipanjangkan lidahnya dari pintu ke pintu. Memberikan pengetahuan nilai-nilai absolut untuk memahami apa yang dianggapnya paling penting. Kehidupan manusia  penuh dengan dinamika yang tak bisa ditebak, dari apa badai atau hembusan angin segar di depanya. Kecemasan dan ketakutan akan kehidupan. Penawaran obat sang pendeta akan kecamasan yang ada dalam diri manusia adalah wahyu. Sarana pemilihara kehidupan manusia akan datangnya ancaman ataupun kecemasan dalam diri manusia, yang membuatnya aman dan nyaman dengan kemutlakanya.
Ketidakberdayaan orang melepaskan kebiasaan kenyaman dari belenggu polusi moral Gereja yang sudah ditebarkan oleh para pendeta. Penyerahan diri pada Tuhan yang melampaui segalanya, adalah modal kaum agamawan untuk menancapkan dogma-dogma—berikut dengan seperangkat peraturan yang memenjarakan kebebasan. Rupanya, polusi yang sudah cukup banyak mencemari udara di dunia ini, berusaha di hentikan oleh orang-orang yang sadar akan akalnya. Mungkin boleh kita tafsirkan mereka ingin merasa bebas dengan melepaskan ketuhananya, hal ini juga yang dikatakan oleh jean paul sartre mengungkapkan “Kita hanya dapat mengambil salah satu diantara dua sebagai  dia bebas berarti tidak berasal dari Tuhan, atau jika ia bergantung pada Tuhan maka ia tidak bebas”.[1] Periode yang menggantikan ukuran akan sebuah kebenaran yang oleh gereja di tumpukan secara sepenuhnya pada Tuhan, digantikan pada periode Renaisans sebagai tantangan kepercayaan Keagamaan dengan mendewakan akal. Ini terlihat pada pada pemikiran Descarates, yang melalui wawasan humanismenya, menjadikan manusia—dengan segala kemampuan rasionalnya—sebagai subjek yang mampu memecahkan masalah dunia. Inilah awal dari keterputusan dari Tuhanya sebagai subjek yang merdeka, self-determination dan self-affirmation.[2] Hal ini akan mengantarkan kita pada zaman Pencerahan (Aufklarung) atau dikerucutkan lagi oleh Hegel dengan memahkotakan pengetahuan dari apa yang disebut dengan kebenaran Ideal (Spirit), menggantikan mitos atau wahyu[3].
`           Mematikan Tuhan dalam Gereja tidak mengartikan membunuh tuhan-tuhan yang lainnya. Pada zaman Renaisans yang berhasil mematikan Tuhan Gereja, namun ia juga membuat model jelmaan Tuhan baru yaitu akal. Ini kurang lebih atau tidak berbeda jauh dengan keadaan manusia yang masih takut akan kecemasanya dalam hidup. Sehingga masih butuh sandaran-sandaran yang menopangnya untuk berjalan menjelajah dunia. Sesuai dengan aforisme nietzche yang dikatakan sebagai manusia yang takut berlayar ke samudra yang penuh dengan ancaman ombak. Sehingga dia membuat pulau baru dari pulau yang sudah dihancurkan sebelumnya. Inilah yang dikritik akan adanya nilai baru yang akhirnya dimutlakan. Nilai yang ada diruntuhkan dengan devaluasi  nilai Tertinggi, membuat keadaan kritis terus-menerus tanpa ada sandaran. Runtuhnya nilai-nilai merupakan keadaan normal dan akibat yang harus terjadi[4] dalam kehidupan.
            Manusia tidak membutuhkan landasan nilai, kebenaran dan legitimasi selain dari dirinya sendiri. Keterputusan dari nilai-nilai, mitos, spirit ketuhanan memungkinkan manusia mengukir sejarahnya sendiri di dunia. Nihilisme yang dibangun oleh nietzche dengan cara mendekontruksi semuanya dan membiarkan tercerai berai, memang begitu extremnya. Jika dibandingkan dengan teman sejawatnya yang menggerogoti landasan filosofis modern menuju posmodernitas yaitu Heidegger dengan konsep diferensi[5]. Pemikiran yang menolak akan adanya peninggian nilai yang membentuk oposisi biner, menegasikan, mengkontradiksikan. Berakibat adanya pihak yang dipenjarakan yang berarti bertentangan dengan konsep kebebasan manusia yang sudah dikutip diawal. Keadaan kritis dengan  runtuhnya semua sandaran-sandaran, nilai-nilai kehidupan berkulminasi dengan teriakan Tuhan sudah mati.  Dalam bahasa aforismenya, hari-hari yang dilalui malam berkepanjangan lengkap dengan kegentingan akan keabsurdan tujuan hidup. Itu semua bukan hal yang harus ditolak, namun kita terima dengan sekaligus mengatasinya.
            Keruntuhan nilai-nilai tidak mengartikan penghilangan semua nilai atau ketiadaan nilai. Karena mempresentasikan Kematian tuhan-tuhan juga tidak mengembalikan kita pada zaman sebelumnya yang membuat jelamaan tuhan baru. untuk mengatasi penderitaan dan kebahagiaan atas kematian Tuhan, dalam kunci pemikirinya adalah belajar mengingat sejarah pada saat yang tepat dan melupakan sejarah pada saat yang tepat[6], Ditambah lagi dengan lampauan sejarah. Maksud dari lampauan sejarah yang dikatakan nietzsche, itu ditemukan dalam sebuah Tragedy yunani kuno dengan dionisian dan apollian. Seni yang menggambarkan pergolakan hidup penuh dengan keabsurdan dan kengerian dalam hidup, dihayati oleh individu untuk mengungkap arus hidup itu sendiri[7]. Keharmonisan antara kedua ini yang mampu memberikan keberanian dalam hidup yang kritis dan mengatasinya. Penekanan dalam pengendalian diri untuk mengatasi pergolakan yang ada merupakam kunci mengatasi keabsurdan kehidupan—kehendak untuk berkuasa. Nilihilisme yang akan utuh jika dengan konsep kehendak untuk berkuasa dalam tujuan kepada sampai pada Ubermensch, namun nihilisme lebih merupakan semangat zaman dari pada suatu doktrin atau sikap filsuf secara individual.[8]
            Transvaluasi nilai yang begitu kentalnya dalam pembahasan nihilisme, dengan banyak penggunaan bahasa meruntuhkan nilai, kematian Tuhan. Tidak mengartikan bahwa nietzsche sebagai tokohnya yang membuat kekritisan ini, mengajukan nilai baru dan meninggalkan nilai lama. Transvaluasi dapat dilihat sebagai suatu konsepsi baru untuk mengadakan penilaian atas seluiruh kegiatan manusia, nilai-nilai tetap dihargai karena tanpa itu tidak dapat berkembang dan dapat juga runtuh jika tidak sesuai dengan prinsip kehendak untuk berkuasa. Hal ini merupakan insight bagi kita, tak perlu kita takut atau menolaknya karena ini yang membuat kita sebagai Manusia Ideal. Perahu akan tetap berlayar—sekalipun layar terobek badai, namun pengajaran oleh matahari dan bulan itulah roda kekuasaan yang bertambah.


 


[1] Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Drs. H. Muzairi, MA, Pustaka Pelajar 2002,  Hal 147
[2] Hipersimiotika, Yasraf Amir Piliangan, Jalasutra 2010, Hal 73
[3] Konsep Zeitgeist Hegel
[4] Nietzsche, St Sunardi, LKIS, 2011, hal 40
[5] Hipersemiotika, Hal 78
[6] Nietzsche, Hal 28
[7] Nietzsche, hal 75
[8] Nietzsche, Hal 41