Memakai etos Wahib
27 juli 2012
Kebimbangan
menghempas begitu kuat tanpa dorongan ataupun pakasaan. Saya dibuat untuk
meragukan Tuhan, menagguhkan agama, khawatir kesesatan berpikirpun tak bisa terelakan.
Namun disisi lain, keberadaan Tuhan menjadi sesuatu yang harus saya ketahui,
agama normatif dengan kekauan ingin saya memberi bentuk agar lebih indah
dipandang, berpikir bebas untuk melepas sebuah kemunafikan terhadap diri, agama
termasuk Tuhan untuk kejujuran. Itulah yang saya dapatkan dari pemikran Ahmad
Wahib yang tertuang dalam buku catatan hariannya memicu banyak pertanyaan dan
kontroversi dalam
pergolakan pemikiran kita sendiri.
Jika
dicermati, kebebasan berpikir Wahib jauh melampaui batas-batas kelaziman wacana
pemikiran Islam dalam konteks masyarakat Indonesia pada saat itu. Wahib
mempropagandakan ”kebebasan berpikir, ijtihad kolektif, dan pembaruan pemikiran
Islam”.
Ahmad Wahib
lahir di Sampang, Madura, pada 1942. Wahib tumbuh dewasa dalam lingkungan yang
kehidupan keagamaannya sangat kuat. Ayahnya adalah seorang pemimipin pesantren
dan dikenal luas dalam masyarakatnya. Namun, Wahib berpikiran sangat luas dan
terbuka tidak berpikir monoton dalam keislaman, apalagi dia kemudian di
lingkungan pendidikan di Yogyakarta. Membuat pola pemikiranya mengkonsumsi dari
pandangan sekuler yaitu marxis, demokrasi, dan sosial. Keintenan diskusi wahib
dengan beberap kerabatnya seperti Djohan Effendi, Dawam Raharjo memberikan
pengaruh besar dalam perjalanan keintelektualannya.
Corak pemikiran
Wahib kental dengan semangat keintelektualitasan dan kekuatan akal dalam
berpikir bebas, apapun objek yang ditujunya. Sesuatu yang meronta-ronta dalam
pikiranya, tidak bisa disembunyikan atau dibendung, Wahib ingin meluapkan itu
semuanya agar tidak ada kepura-puraan. Dapat dilihat misalnya dalam catatannya,
bagaimana dia mencurahkan kegilisah terhadap Tuhan dalam mendekatinya dengan
berpikir yang dibatasi, “Sebagian orang meminta agar saya berpikir dalam
batas-batas Tauhid, sebagai konklusi globalitas ajaran Islam. Aneh, mengapa
berpikir hendak dibatasi. Apakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan
oleh Tuhan itu sendiri? Saya percaya pada Tuhan, tapi Tuhan bukanlah daerah
terlarang bagi pemikiran. Tuhan ada bukan untuk tidak dipikirkan “adanya”.
Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik. Sesungguhnya orang
yang mengakui bertuhan tetapi menolak berpikir bebas berarti menghina
rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi, dia menghina Tuhan karena
kepercayaannya hanya sekedar kepura-puraan yang tersembunyi.” (hal 23)
Dalam mengambil pemikirannya, saya akan mengambil
salah satu etos berpikir Wahib dalam mengenal sosoknya. Sulit untuk menguraikan
pemikaran Wahib secara perinci apa yang menjadi konsenya pada waktu itu. Buku
harian yang menjadi sumber karya pemikirannya tentulah, sangat abstrak dan
tidak teratur kerangka pemikiran hanya asumsi dan kebebsan penilaian yang akan
kita persepsikan. Seperti yang sudah dikatakan diatas bahwa Wahib tidak lazim
atau seperti lokomotif pemikiran yang jauh melampauinya, ia sudah membahas
sekuler sebelum Nurcholish majid yang juga teman sejawatnya. Liberalism,
sekulerlisme dan pluralisme yang terus disuarakan sekarang oleh tokoh-tokoh intelek
muda sudah banyak dibahas oleh Wahib. Ada satu hal yang menarik dari beberap
buah pemikiranya, yaitu bagaimana seorang Wahib yang menyandang title DO (drop
out) di dunia perkuliahan. Masih sangat antusias sekali dalam mencari ilmu.
Penyusunan kemasa depan dalam menggali disiplin ilmu ia pikirkan, terbilang
”rakus” juga wahib dalam masalah keilmuan.
Pergolakan
pemikiran sering menghantuinya ketika bersentuhan dengan agama dan Tuhan. Ada
semangat berpikir keras Dalam tubuh wahib untuk memoles pengetahuan tentang
agama. Ia membedakan antara Iman secara formil dan materil. Formal hanya
sebatas iman akan keberadaanya secara keyakinan. Namun, materil bagaimana
mengakses “keberadaanya” dengan mengetahuinya secara rasional. Bukan kemusrikan
dalam beragama, saya teringat dengan perkataan Qurai shihab bahwa hanya hati yang
menciptakan keimanan dan diperkuat dengan kekuatan akal akan pengetahuan.
Kejujuran pemikiran begitu sangat ditonjolkan dari pertanyaan yang mengkabuti
otaknya.
Kebebasan
berpikir dianggap sebagai sebuah eksisitensi dari Tuhan itu sendiri.
Menyiratkan makna konotatif, bahwa ketika kita tidak berpikir bebas sama saja
tidak mensyukuri akal yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Melepaskan baju
dalam proses menggali suatu hal, menjadi kebiasaan wahib dalam mempelajari
sesuatu. Ia menerima penularan dari segala yang ada diluar dirinya untuk sebuah
proses menjadi dirinya. Ada kutipan yang mengatakan bahwa “ aku bukanlah islam
atau katolik bukan juga hindu. Akau adalah semuanya…….” Penggalan kutipan dari
catatan harian tersebut dapat ditafsiri, bagaimana sosok Wahib ingin menjadi
dirinya dan berproses dan terus berproses menjadi dirinya sendiri.
Itulah
hal yang akan kita dapat setelah membaca buku kecil pergolakan pemikiran Ahmad
Wahib. Bagaimana kita tidak diajak dalam pewacanaan wahib sendiri, namun lebih
bagaimana kita diajak kepada mewahib, meaku. Keberanian pencarian dan
pengembaraan diri akan dilepas bebas untuk mendapatkan kebenaran. Proses
berpikir seperti ini yang kini menjadi sebuah ironis, kerap kali dianggap
sebagai buah pemikiran sesat. Pemisahan ranah hati dan pikiran menjadi kabur,
hal transenden dan imanen dicampur adukan menjadi kesucian batu. Pemikiran umat
islam akan hanya mencari kebenaran yang sudah tercipta dari akar kesejarahan,
retroprespektif. Sedangkan pemikiran akan pencarian kedepan sangat jarang kita
temukan dalam umat muslimin, prospektif. Mungkin inilah banyak tokoh muslim
seperti arkoun yang sadar akan kebekuan teks.
Sebagai
hamba Tuhan yang ingin menyingkap segala pengetahuan tentang Tuhan, tentunya
akan mencari pengetahuan itu dan jika ada batas maka akan cari sejauh mana
batas itu malang melintang. Teruslah berproses dan proses tak pernah berujung
itu akan mendekatkanmu kepada Ketidakberhinggaan. Keberanian pribadi wahib kini
sudahlah tiada berjasad lagi, jasadnya mati mendahului namanya namun karyanya
catatan harian ini tidaklah akan tetap hidup. Ini mengingat kita kepada aktivis
muda Soe Hok Gie yang juga meninggal muda dan dikenal lewat tulisan catatan
harianya. Tokoh-tokoh tidak besar dan dikenang jika tidak mempunyai karya
tulis, umur bukanlah ukuran kebesaran, maka untuk temen-temen semua mari kita
berkarya mulai dari kemudaan yang masih tersandang dalam diri kita. Pada tanggal
30 Maret Wahib ditabrak sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi di
persimpangan Jalan Senen Raya-Kalilio, Jakarta. Saat itu ia baru saja keluar
dari kantor Majalah Tempo, tempat di mana Wahib bekerja menjadi calon reporter.
*masih belum selesasi,
bersambung dulu yaaaa……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar