Halaman

KOTA CIREBON

Jumat, 04 Januari 2013

Ahmad Wahib


Memakai etos Wahib
27 juli 2012
                Kebimbangan menghempas begitu kuat tanpa dorongan ataupun pakasaan. Saya dibuat untuk meragukan Tuhan, menagguhkan agama, khawatir kesesatan berpikirpun tak bisa terelakan. Namun disisi lain, keberadaan Tuhan menjadi sesuatu yang harus saya ketahui, agama normatif dengan kekauan ingin saya memberi bentuk agar lebih indah dipandang, berpikir bebas untuk melepas sebuah kemunafikan terhadap diri, agama termasuk Tuhan untuk kejujuran. Itulah yang saya dapatkan dari pemikran Ahmad Wahib yang tertuang dalam buku catatan hariannya memicu banyak pertanyaan dan kontroversi dalam pergolakan pemikiran kita sendiri. Jika dicermati, kebebasan berpikir Wahib jauh melampaui batas-batas kelaziman wacana pemikiran Islam dalam konteks masyarakat Indonesia pada saat itu. Wahib mempropagandakan ”kebebasan berpikir, ijtihad kolektif, dan pembaruan pemikiran Islam”.
                Ahmad Wahib lahir di Sampang, Madura, pada 1942. Wahib tumbuh dewasa dalam lingkungan yang kehidupan keagamaannya sangat kuat. Ayahnya adalah seorang pemimipin pesantren dan dikenal luas dalam masyarakatnya. Namun, Wahib berpikiran sangat luas dan terbuka tidak berpikir monoton dalam keislaman, apalagi dia kemudian di lingkungan pendidikan di Yogyakarta. Membuat pola pemikiranya mengkonsumsi dari pandangan sekuler yaitu marxis, demokrasi, dan sosial. Keintenan diskusi wahib dengan beberap kerabatnya seperti Djohan Effendi, Dawam Raharjo memberikan pengaruh besar dalam perjalanan keintelektualannya.
                Corak pemikiran Wahib kental dengan semangat keintelektualitasan dan kekuatan akal dalam berpikir bebas, apapun objek yang ditujunya. Sesuatu yang meronta-ronta dalam pikiranya, tidak bisa disembunyikan atau dibendung, Wahib ingin meluapkan itu semuanya agar tidak ada kepura-puraan. Dapat dilihat misalnya dalam catatannya, bagaimana dia mencurahkan kegilisah terhadap Tuhan dalam mendekatinya dengan berpikir yang dibatasi, “Sebagian orang meminta agar saya berpikir dalam batas-batas Tauhid, sebagai konklusi globalitas ajaran Islam. Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi. Apakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri? Saya percaya pada Tuhan, tapi Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan ada bukan untuk tidak dipikirkan “adanya”. Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik. Sesungguhnya orang yang mengakui bertuhan tetapi menolak berpikir bebas berarti menghina rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi, dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekedar kepura-puraan yang tersembunyi.” (hal 23)
                Dalam mengambil pemikirannya, saya akan mengambil salah satu etos berpikir Wahib dalam mengenal sosoknya. Sulit untuk menguraikan pemikaran Wahib secara perinci apa yang menjadi konsenya pada waktu itu. Buku harian yang menjadi sumber karya pemikirannya tentulah, sangat abstrak dan tidak teratur kerangka pemikiran hanya asumsi dan kebebsan penilaian yang akan kita persepsikan. Seperti yang sudah dikatakan diatas bahwa Wahib tidak lazim atau seperti lokomotif pemikiran yang jauh melampauinya, ia sudah membahas sekuler sebelum Nurcholish majid yang juga teman sejawatnya. Liberalism, sekulerlisme dan pluralisme yang terus disuarakan sekarang oleh tokoh-tokoh intelek muda sudah banyak dibahas oleh Wahib. Ada satu hal yang menarik dari beberap buah pemikiranya, yaitu bagaimana seorang Wahib yang menyandang title DO (drop out) di dunia perkuliahan. Masih sangat antusias sekali dalam mencari ilmu. Penyusunan kemasa depan dalam menggali disiplin ilmu ia pikirkan, terbilang ”rakus” juga wahib dalam masalah keilmuan.
                Pergolakan pemikiran sering menghantuinya ketika bersentuhan dengan agama dan Tuhan. Ada semangat berpikir keras Dalam tubuh wahib untuk memoles pengetahuan tentang agama. Ia membedakan antara Iman secara formil dan materil. Formal hanya sebatas iman akan keberadaanya secara keyakinan. Namun, materil bagaimana mengakses “keberadaanya” dengan mengetahuinya secara rasional. Bukan kemusrikan dalam beragama, saya teringat dengan perkataan Qurai shihab bahwa hanya hati yang menciptakan keimanan dan diperkuat dengan kekuatan akal akan pengetahuan. Kejujuran pemikiran begitu sangat ditonjolkan dari pertanyaan yang mengkabuti otaknya.
                Kebebasan berpikir dianggap sebagai sebuah eksisitensi dari Tuhan itu sendiri. Menyiratkan makna konotatif, bahwa ketika kita tidak berpikir bebas sama saja tidak mensyukuri akal yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Melepaskan baju dalam proses menggali suatu hal, menjadi kebiasaan wahib dalam mempelajari sesuatu. Ia menerima penularan dari segala yang ada diluar dirinya untuk sebuah proses menjadi dirinya. Ada kutipan yang mengatakan bahwa “ aku bukanlah islam atau katolik bukan juga hindu. Akau adalah semuanya…….” Penggalan kutipan dari catatan harian tersebut dapat ditafsiri, bagaimana sosok Wahib ingin menjadi dirinya dan berproses dan terus berproses menjadi dirinya sendiri.
                Itulah hal yang akan kita dapat setelah membaca buku kecil pergolakan pemikiran Ahmad Wahib. Bagaimana kita tidak diajak dalam pewacanaan wahib sendiri, namun lebih bagaimana kita diajak kepada mewahib, meaku. Keberanian pencarian dan pengembaraan diri akan dilepas bebas untuk mendapatkan kebenaran. Proses berpikir seperti ini yang kini menjadi sebuah ironis, kerap kali dianggap sebagai buah pemikiran sesat. Pemisahan ranah hati dan pikiran menjadi kabur, hal transenden dan imanen dicampur adukan menjadi kesucian batu. Pemikiran umat islam akan hanya mencari kebenaran yang sudah tercipta dari akar kesejarahan, retroprespektif. Sedangkan pemikiran akan pencarian kedepan sangat jarang kita temukan dalam umat muslimin, prospektif. Mungkin inilah banyak tokoh muslim seperti arkoun yang sadar akan kebekuan teks.
                Sebagai hamba Tuhan yang ingin menyingkap segala pengetahuan tentang Tuhan, tentunya akan mencari pengetahuan itu dan jika ada batas maka akan cari sejauh mana batas itu malang melintang. Teruslah berproses dan proses tak pernah berujung itu akan mendekatkanmu kepada Ketidakberhinggaan. Keberanian pribadi wahib kini sudahlah tiada berjasad lagi, jasadnya mati mendahului namanya namun karyanya catatan harian ini tidaklah akan tetap hidup. Ini mengingat kita kepada aktivis muda Soe Hok Gie yang juga meninggal muda dan dikenal lewat tulisan catatan harianya. Tokoh-tokoh tidak besar dan dikenang jika tidak mempunyai karya tulis, umur bukanlah ukuran kebesaran, maka untuk temen-temen semua mari kita berkarya mulai dari kemudaan yang masih tersandang dalam diri kita. Pada tanggal 30 Maret Wahib ditabrak sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi di persimpangan Jalan Senen Raya-Kalilio, Jakarta. Saat itu ia baru saja keluar dari kantor Majalah Tempo, tempat di mana Wahib bekerja menjadi calon reporter.
*masih belum selesasi, bersambung dulu yaaaa……         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar