Halaman

KOTA CIREBON

Jumat, 04 Januari 2013

Syair Tanpo Waton


 Syair Tanpo Waton
Oleh; Muhamad Isomuddin

“Kita butuh kemabukan untuk mencapai pesan dalam penandaan”
                Sebuah karya satra dapat kita temukan tanda-tanda yang memiliki makna tersembunyi. Oleh sebab itu, perlu kita temukan dan ceritakan apa yang tersembunyi dibalik tanda bahasa yang ada. syair tanpo waton ini pun dapat ditinjau lewat semiotika untuk memahami apa yang ada dalan teks maupun luar teksnya. Bahkan isi syair sendiri representasi dari perasaan dan pikiran sang penyair atau hasil dari visual mata yang menyaksikan fenomena sekitar. Semakin berwarna mengartikan syair dengan mengenali tanda-tanda yang ada dengan meminjam semiotika. Penyampaian syair dengan menggunakan media musik menambah keindahan suatu karya, efek kemabukan dari musik akan membawa kita pada dunia atas sadar
Syair tanpo waton masih sulit untuk melacak kevalidan akar kesejarahanya, siapa pencipta syair, kapan mulai dinyayikan dan di mana dinyayikan. Menurut Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang, KH Marzuki Mustamar, yang mempunyai forum pertemuan rutin bertajuk “Cangkru’an Gus Dur”, mengaku ikut mengembangkan shalawat ini. Ia pun yakin, yang melantunkan syi’ir itu benar-benar Gus Dur. Lantunan syair tanpo waton mulai populer setelah beberapa bulan setelah Gus Dur meninggal akhir tahun 2010 (sumber NU online). Terlepas dari siapa pelantun syair tanpo waton, ada yang perlu kita pahami akan makna yang ingin disampaikan. 
Manusia tak dapat terlepas akan kebutuhan pemenuhan emosi dan sekaligus mengekspresikanya, sebagai bentuk pemecah ilusif yang ada. Musik merupakan pemenuhan kebutuhan manusia itu, disadari atau tidak kita sering menuangkan ekspresi itu, seperti bersiul atau dengan bernyanyi. Sulit kiranya untuk mendefinisikan musik secara detail, apakah musik merupakan satuan irama yang terorganisir berpedoman pada aturan khusus, sehingga menghasilkan suara yang harmonis? Karya-karya Beethoven yang seringkali mengeksplorasi paduan kord-kord harmoni yang tidak biasa, menunjukan bagaimana musik tidak harus menurut pada suatu peraturan. Kita tidak akan terlarut lama pada pemaknaan spesifik yang sulit, namun yang terpenting adalah tujuan musik sebagai  penyampaian emosi tersebut.
kita selalu mencari representasi perasaan kita di dalam musik, sebagai  pemenuhan harapan atau terbawanya emosi akan musik yang didengarkan. Pesan yang tersirat di dalam irama atau bait lagu dapat dengan mudahnya kita pahami tanpa harus melogikanya sekalipun, karena musik adalah intuitif. Sederhananya, kata yang ditulis dalam sebuah lirik berasal dari teori atau pengalaman jiwa yang sebenarnya begitu rumit dan sulit dipahami jika tidak diiringi dengan musik. Pesan yang ada dalam syair tanpo waton merupakan kata-kata yang biasa kita dengar dalam pengajian kuping dan dengan banyaknya teori yang ada di dalamnya tak cukup diselasaikan dalam 10 sks. Pesan dalam kata-kata itu tidak terlalu berat untuk menalarnya, namun tidak mudah langsung masuk dalam kesadaran pemahaman kita.
Kata-kata yang mengandung makna dalam syair tanpo waton  dengan begitu mudah masuk dalam kesadaran pemahaman dan menggetarkan jiwa dengan cara mendengarkan lantunannya. Bukan permasalahan siapa yang melantunkanya, karena hal itu juga masih ada beberapa versi dan kontroversi. Namun, hal ini merupakan permasalahan kata-kata yang terartikulasikan, merupakan tanda emosi dan kesungguhan. Makna yang luas dalam syair tidak tereduksi hanya dalam sebatas kata-kata. Sebagaimana Griel Marcus uraikan, “kata-kata adalah bunyi yang bisa kita rasakan dahulu sebelum menjadi peryataan-peryataan untuk dipahami’’. Penyampaian dari kata yang tersusun berbait-bait akan menggetarkan jiwa dengan melantunkanya, dibandingkan jika kita hanya membacanya atau mendengarkan khutbah. Ini mengingatkan kita pada Roland Barthes yang disebut dengan “butir” suara, komponen suara dalam melantunkan kata-kata. Dengan itu kita akan mendapatkan kesenangan akan apa yang didapat (sifat-sifat esensial dari makna).
Dalam bait pertama syair tanpo waton “ngawiti ingsun ngalaras syi’iran”, memulainya dengan menembangkan syair. Kalau saya tafsirkan, ini sebagai kunci pembuka wacana yang ada pada bait selanjutnya, maksudnya dengan lantunan wacana itu akan mudah masuk dalam kesadaran pemahaman. Karena lantunan atau yang saya sebut juga sebagai musik ini, menimbulkan efek kemabukan dimana tak ada jarak lagi, sekat-sekat, tidak terkungkung terhadap perbedaan etnis, ras dan agama. Musik memang transenden, melampaui segala perbedaan dan menyampaikan persamaan rasa yang dialami oleh setiap orang. Ini memberikan kemudahan kita untuk memahami isi dalam syair tersebut, mungkin musik ini sama dengan kata-kata teologis “undzur ma qola wala tandzur man qola” untuk memahami sebuah pesan.
Dalam lirik syair tanpo waton yang mempresentasikan tentang kehidupan dengan isi mengenai  Tuhan, keilmuan, kemanusian, agama dan  kematian. Dicermati bait-bait yang ditulis ini, terstruktur mulai dari keTuhanan sebagai pembuka dan Kematian sebagai penutup. Kembali mengingatkan pada Ferdinand Saussure tentang  prinsip semiotika signifikasi, semiotika pada tingkat langue. Dalam kerangka langue, sausure menjelaskan tanda sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari dua bidang, yaitu bidang penanda (signifier) untuk menjelaskan ‘bentuk’ atau ‘ekspresi’ dan bidang petanda (signified) untuk menjelaskan “konsep” atau “makna”. Relasi-relasi antara penanda dan petanda inilah yang memungkinkan pesan dikomunikasikan dari seseorang kepada orang lainya.
Penggalan kata “Tuhan” yang terdapat dalam bagian pembukaan syair, merupakan hal yang sesuai sebagai syair mengandung tentang nasihat. Indonesia khususnya merupakan masyarakat yang mayoritas  bertuhan. Sehingga nasihat yang akan disampaikan dalam kandungan syair lebih mudah diterima dan dipahami secara utuh. Karena kata Tuhan yang ditempatkan pada awal ini, menimbulkan gambaran akan isi yang disampaikan merupakan nasihat yang sakral dan istimewa. Proyeksi akan gamabaran Tuhan memberikan efek Ketertundukan masyarakat atau setidaknya menimbulkan sikap ”diam” sejenak untuk mendengarkanya dengan konsentrasi. Menghilangkan sikap prejudice yang membuka secara lebar-lebar hati dan pikiran tanpa ada pengafirmatifan dan penegasian sebelumnya.
Dengan pembukaan “menetralkan” suasana pada objek, wacana selanjutnya sebagai isi tentang keilmuan, agama, keiklashan dan humanisasi akan terima sebagai sebuah insight. Kemudian dalam penutup syair ini menyinggung masalah kematian, semakin memperkuat syair ini “melumpuhkan” orang. Kematian merupakan hal yang ditakutkan atau juga ada sebuah cita-cita akan kematian tersebut. Dalam kutipan kata “ utuh mayite ugo ulese” inilah yang merupakan gambaran cita-cita kematian yang khusnul khotimah. Tawaran akan kematian yang baik ini akan hadir jika melakukan seluruh isi atau nasihat dalam syair. Tanda-tanda yang digunakan dalam syair tanpo waton, merupakan aspek-aspek yang fundamental pada sisi manusia. Ketuhanan dan kematian merupakan simbolitas yang dapat mempengaruhi secara efektif akan maksud yang dituju.
Kehidupan selalu dibayangi oleh tanda-tanda yang memiliki pesan tersembunyi dan sulit untuk diterima. Pembahasaan yang kadang tidak selalu terverbalkan dan terkomunikasikan dengan jelas, mengolak-alikan otak untuk berpikir melogikakanya. Meskipun tanda menyiratkan pesan yang jelas, kerap kali sulit untuk masuk dalam sebuah insight. Melalui petanda kepekaan hati nurani manusia yaitu musik, pesan tidak harus dipahami secara rasional ia menekankan bahwa musik merupakan pengalaman secara intuitif, diresapi tanpa perlu kita cari penjelasan logisnya bagi Schopenhauer. Entah, apakah ini semacam diskursus filsafat sesungguhnya sudah patah, dipatahkan oleh nada-nada ritmis-dramatis. Dalam musik kita menemukan apa yang dielu-elukan Socrates. Musik itu indah, di dalamnya terendap kebenaran, dan melaluinya manusia terbebaskan. Lirik menggunakan diksi simbolik bagian dari kesedehanaan kata akan keuniversalan makna atau word hermeneutic tanpa harus mereduksinya. Karena itu, tak salah jika kita mengtakan bahwa musik adalah transenden, melampaui “tirani kata dan makna”.

*Mahasiswa Akidah Filsafat IV
Dan direktur centre study of philosophy and culture (CSPC)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar