Syair Tanpo Waton
Oleh; Muhamad Isomuddin
“Kita butuh kemabukan untuk mencapai pesan dalam
penandaan”
Sebuah karya satra dapat kita
temukan tanda-tanda yang memiliki makna tersembunyi. Oleh sebab itu, perlu kita
temukan dan ceritakan apa yang tersembunyi dibalik tanda bahasa yang ada. syair
tanpo waton ini pun dapat ditinjau lewat semiotika untuk memahami apa yang ada
dalan teks maupun luar teksnya. Bahkan isi syair sendiri representasi dari
perasaan dan pikiran sang penyair atau hasil dari visual mata yang menyaksikan
fenomena sekitar. Semakin berwarna mengartikan syair dengan mengenali
tanda-tanda yang ada dengan meminjam semiotika. Penyampaian syair dengan
menggunakan media musik menambah keindahan suatu karya, efek kemabukan dari
musik akan membawa kita pada dunia atas sadar
Syair tanpo waton masih sulit untuk melacak kevalidan akar
kesejarahanya, siapa pencipta syair, kapan mulai dinyayikan dan di mana dinyayikan.
Menurut Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang, KH
Marzuki Mustamar, yang mempunyai forum pertemuan rutin bertajuk “Cangkru’an Gus
Dur”, mengaku ikut mengembangkan shalawat ini. Ia pun yakin, yang melantunkan
syi’ir itu benar-benar Gus Dur. Lantunan syair
tanpo waton mulai populer setelah beberapa bulan setelah Gus Dur meninggal
akhir tahun 2010 (sumber NU online).
Terlepas dari siapa pelantun syair tanpo waton, ada yang perlu kita pahami akan
makna yang ingin disampaikan.
Manusia tak dapat terlepas akan
kebutuhan pemenuhan emosi dan sekaligus mengekspresikanya, sebagai bentuk pemecah
ilusif yang ada. Musik merupakan pemenuhan kebutuhan manusia itu, disadari atau
tidak kita sering menuangkan ekspresi itu, seperti bersiul atau dengan
bernyanyi. Sulit kiranya untuk mendefinisikan musik secara detail, apakah musik
merupakan satuan irama yang terorganisir berpedoman pada aturan khusus, sehingga
menghasilkan suara yang harmonis? Karya-karya
Beethoven yang seringkali mengeksplorasi paduan kord-kord harmoni yang tidak biasa,
menunjukan bagaimana musik tidak harus menurut pada suatu peraturan. Kita tidak
akan terlarut lama pada pemaknaan spesifik yang sulit, namun yang terpenting
adalah tujuan musik sebagai penyampaian emosi
tersebut.
kita selalu mencari
representasi perasaan kita di dalam musik, sebagai pemenuhan harapan atau terbawanya emosi akan
musik yang didengarkan. Pesan yang tersirat di dalam irama atau bait lagu dapat
dengan mudahnya kita pahami tanpa harus melogikanya sekalipun, karena musik
adalah intuitif. Sederhananya, kata
yang ditulis dalam sebuah lirik berasal dari teori atau pengalaman jiwa yang
sebenarnya begitu rumit dan sulit dipahami jika tidak diiringi dengan musik. Pesan
yang ada dalam syair tanpo waton merupakan kata-kata yang biasa kita dengar
dalam pengajian kuping dan dengan
banyaknya teori yang ada di dalamnya tak cukup diselasaikan dalam 10 sks. Pesan
dalam kata-kata itu tidak terlalu berat untuk menalarnya, namun tidak mudah
langsung masuk dalam kesadaran pemahaman kita.
Kata-kata yang mengandung makna
dalam syair tanpo waton dengan begitu
mudah masuk dalam kesadaran pemahaman
dan menggetarkan jiwa dengan cara mendengarkan lantunannya. Bukan permasalahan
siapa yang melantunkanya, karena hal itu juga masih ada beberapa versi dan
kontroversi. Namun, hal ini merupakan permasalahan kata-kata yang
terartikulasikan, merupakan tanda emosi dan kesungguhan. Makna yang luas dalam
syair tidak tereduksi hanya dalam sebatas kata-kata. Sebagaimana Griel Marcus
uraikan, “kata-kata adalah bunyi yang bisa
kita rasakan dahulu sebelum menjadi peryataan-peryataan untuk dipahami’’.
Penyampaian dari kata yang tersusun berbait-bait akan menggetarkan jiwa dengan
melantunkanya, dibandingkan jika kita hanya membacanya atau mendengarkan
khutbah. Ini mengingatkan kita pada Roland Barthes yang disebut dengan “butir”
suara, komponen suara dalam melantunkan kata-kata. Dengan itu kita akan
mendapatkan kesenangan akan apa yang didapat (sifat-sifat esensial dari makna).
Dalam bait pertama syair tanpo
waton “ngawiti ingsun ngalaras syi’iran”,
memulainya dengan menembangkan syair. Kalau saya tafsirkan, ini sebagai kunci
pembuka wacana yang ada pada bait selanjutnya, maksudnya dengan lantunan wacana
itu akan mudah masuk dalam kesadaran
pemahaman. Karena lantunan atau yang saya sebut juga sebagai musik ini,
menimbulkan efek kemabukan dimana tak ada jarak lagi, sekat-sekat, tidak terkungkung terhadap perbedaan etnis, ras
dan agama. Musik memang transenden, melampaui segala perbedaan dan menyampaikan
persamaan rasa yang dialami oleh setiap orang. Ini memberikan kemudahan kita
untuk memahami isi dalam syair tersebut, mungkin musik ini sama dengan
kata-kata teologis “undzur ma qola wala
tandzur man qola” untuk memahami sebuah pesan.
Dalam lirik syair tanpo waton yang
mempresentasikan tentang kehidupan dengan isi mengenai Tuhan, keilmuan, kemanusian, agama dan kematian. Dicermati bait-bait yang ditulis
ini, terstruktur mulai dari keTuhanan sebagai pembuka dan Kematian sebagai
penutup. Kembali mengingatkan pada Ferdinand Saussure tentang prinsip semiotika signifikasi, semiotika pada tingkat langue. Dalam kerangka langue, sausure menjelaskan tanda
sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari dua bidang, yaitu bidang
penanda (signifier) untuk menjelaskan
‘bentuk’ atau ‘ekspresi’ dan bidang petanda (signified) untuk menjelaskan “konsep” atau “makna”. Relasi-relasi
antara penanda dan petanda inilah yang memungkinkan pesan dikomunikasikan dari
seseorang kepada orang lainya.
Penggalan
kata “Tuhan” yang terdapat dalam bagian pembukaan syair, merupakan hal yang
sesuai sebagai syair mengandung tentang nasihat. Indonesia khususnya merupakan
masyarakat yang mayoritas bertuhan. Sehingga
nasihat yang akan disampaikan dalam kandungan syair lebih mudah diterima dan
dipahami secara utuh. Karena kata Tuhan yang ditempatkan pada awal ini,
menimbulkan gambaran akan isi yang disampaikan merupakan nasihat yang sakral
dan istimewa. Proyeksi akan gamabaran Tuhan memberikan efek Ketertundukan
masyarakat atau setidaknya menimbulkan sikap ”diam” sejenak untuk
mendengarkanya dengan konsentrasi. Menghilangkan sikap prejudice yang membuka secara lebar-lebar hati dan pikiran tanpa
ada pengafirmatifan dan penegasian sebelumnya.
Dengan
pembukaan “menetralkan” suasana pada objek, wacana selanjutnya sebagai isi tentang
keilmuan, agama, keiklashan dan humanisasi akan terima sebagai sebuah insight. Kemudian dalam penutup syair
ini menyinggung masalah kematian, semakin memperkuat syair ini “melumpuhkan”
orang. Kematian merupakan hal yang ditakutkan atau juga ada sebuah cita-cita
akan kematian tersebut. Dalam kutipan kata “
utuh mayite ugo ulese” inilah yang merupakan gambaran cita-cita kematian yang khusnul khotimah. Tawaran akan kematian yang baik ini akan hadir
jika melakukan seluruh isi atau nasihat dalam syair. Tanda-tanda yang digunakan
dalam syair tanpo waton, merupakan aspek-aspek yang fundamental pada sisi
manusia. Ketuhanan dan kematian merupakan simbolitas yang dapat mempengaruhi
secara efektif akan maksud yang dituju.
Kehidupan
selalu dibayangi oleh tanda-tanda yang memiliki pesan tersembunyi dan sulit
untuk diterima. Pembahasaan yang kadang tidak selalu terverbalkan dan
terkomunikasikan dengan jelas, mengolak-alikan otak untuk berpikir
melogikakanya. Meskipun tanda menyiratkan pesan yang jelas, kerap kali sulit
untuk masuk dalam sebuah insight. Melalui
petanda kepekaan hati nurani manusia yaitu musik, pesan tidak harus dipahami
secara rasional ia menekankan bahwa musik merupakan pengalaman secara intuitif,
diresapi tanpa perlu kita cari penjelasan logisnya bagi Schopenhauer. Entah,
apakah ini semacam diskursus filsafat sesungguhnya sudah patah, dipatahkan oleh nada-nada
ritmis-dramatis. Dalam musik kita menemukan apa yang dielu-elukan Socrates.
Musik itu indah, di dalamnya terendap kebenaran, dan melaluinya manusia
terbebaskan. Lirik menggunakan diksi simbolik bagian
dari kesedehanaan kata akan keuniversalan makna atau word hermeneutic tanpa harus mereduksinya. Karena itu, tak salah
jika kita mengtakan bahwa musik adalah transenden, melampaui “tirani kata dan
makna”.
*Mahasiswa
Akidah Filsafat IV
Dan direktur centre study of
philosophy and culture (CSPC)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar