Halaman

KOTA CIREBON

Jumat, 04 Januari 2013

Tukang Kebun


Tukang kebun tak punya kebun
 “Makna pribumi tak lagi  berarti dengan suguhan mie instan”
25 november 2012

            Haerudin sebagai tukang kebun di Wisma Tempo Sirnagalih. Menggantikan tukang kebun sebelumnya pak Eman sekitar 4 tahun yang lalu. Pekerjaan tukang kebun bukanlah pertama di Wisma Tempo Sirnagalih saja, ia pernah menjadi tukang kebun di wisma-wisma lainya di sekitar Mega Mendung. Sebagai penduduk asli Mega Mendung, keberadaan wisma sangat membantu perekonomian bagi haerudin. Tukang kebun menyihir tanaman hijau dan rindang yang begitu menghampar di pelataran Wisma Tempo Sirnagalih terlihat tak membosankan mata untuk melihat tiap sudut ditempat ini. Bangunan wisma yang cukup tua dan merekam beberapa peristiwa menakutkan penuh kegilsahan tak terlihat  dari wisma, pesona senyum manis dan keasrian yang menyapa terhadap pengunjung yang datang di Wisma.
            Tanah seluas 2 hektar ini menjadi wadah penampung harapan-harapan orang akan berbagai kepentingan yang dikantunginya. Tempo menempatkan wisma ini sebagai berbagai kegiatan intelektual dan pergerakan jurnalis, para peserta KEM 2012 mengharapkan pembekalan wacana dan pisau analisis jurnalis yang baru dan progres. Namun harapan yang berpusat di aula itu tak begitu penting dan tidak perlu diketahui oleh seorang tukang kebun bernama Haerudin. Bekerja selama 4 tahun mengurusi perkebunan wisma bukan berarti ia ikut terpengaruh dengan kegiatan yang ada wisma. Apa yang menurut diruang aula sebagai ide besar dan harapan, ternyata di luar aula mempunyai ruang dan dunia ideal yang berbeda.  Ia hanya berharap agar rumput-rumput terlihat indah dengan warna hijau segar. Bergegas pulang untuk melihat sambutan istri membayangi tiap kali bekerja.
            Sebagai warga pribumi, ia tak mengerti mengapa harus membersihkan tanah orang lain dari tempat kelahirannya sendiri. Dengan wajah yang keriput dan berkepala 5 ia tak paham tanah-tanah yang sudah dikapling-kapling oleh villa, hanya menyisakan sepetak tanpa halaman untuk pak haerudin. Justru merawat dari tempat yang tak ada daya kuasa untuk dirinya. deru mesin rumput dijadikan sebagai music blues yang meneriakan dari harapan-harapan kecilnya. Sapu lidi yang menyapu sampah kering dedaunan tak mengingatkan akan profesinya sebagai tukang kebun tersubordinasi dan tersingkirkan dari pemikiran dominan modern.  Makna pribumi tidaklah begitu penting bagi pak Haerudin, ketika hal itu ditukar dengan uang kurang dari 600 ribu rupiah yang dibawa pulang kerumah. Cukup mengganti kata “pribumi” menjadi “mie instan”. Cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Walaupun 3 anak yang sudah berumah tangga semuanya juga kerap kali membantu masalah dapur.
            Ketika kebun di sekitar wisma dijadikan pemuas hawa nafsu mata akan imaji alam yang asri. Di sana juga tersiram cucuran keringat bertahun-tahun dari pak haerudin yang menjadi orang tua dari tanaman-tanaman yang ada. Pilihan ini dijalani dengan ketulusan sebagai bentuk kewajiban untuk mendapatkan hak perutnya. Ia bukanlah aktivis yang berbicara akan teori lingkungan. Apakah pak Haerudin termasuk sebagai pengambilan peran seperti akativis? Menurut mas Aat; ia dengan terang menegaskan sebagai pekerja tukang kebun mengambil peran dalam lingkungan hijau, dari pada aktivis lingkungan yang secara sembunyi-sembunyi mencari dana-dana proposal bocor tanpa ada tindakan riil. Pak Haerudin walaupun dia bekerja demi mendapakan uang, ia dengan tulus dan merawat tanaman. Karena tanaman perlu dirawat dan dibersihkan agar pertumbuhanya terjaga.  Etos kata kerja yang susah ditemui di papan tulis yang lepas dari dunia nyata. Di sini aku  temui apa arti kata kerja yang sesungguhnya.
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar