Tukang kebun tak punya kebun
“Makna pribumi tak lagi berarti dengan suguhan mie instan”
25 november
2012
Haerudin sebagai
tukang kebun di Wisma Tempo Sirnagalih. Menggantikan tukang kebun sebelumnya
pak Eman sekitar 4 tahun yang lalu. Pekerjaan tukang kebun bukanlah pertama di
Wisma Tempo Sirnagalih saja, ia pernah menjadi tukang kebun di wisma-wisma
lainya di sekitar Mega Mendung. Sebagai penduduk asli Mega Mendung, keberadaan
wisma sangat membantu perekonomian bagi haerudin. Tukang kebun menyihir tanaman
hijau dan rindang yang begitu menghampar di pelataran Wisma Tempo Sirnagalih
terlihat tak membosankan mata untuk melihat tiap sudut ditempat ini. Bangunan wisma
yang cukup tua dan merekam beberapa peristiwa menakutkan penuh kegilsahan tak
terlihat dari wisma, pesona senyum manis
dan keasrian yang menyapa terhadap pengunjung yang datang di Wisma.
Tanah seluas 2
hektar ini menjadi wadah penampung harapan-harapan orang akan berbagai
kepentingan yang dikantunginya. Tempo menempatkan wisma ini sebagai berbagai
kegiatan intelektual dan pergerakan jurnalis, para peserta KEM 2012 mengharapkan
pembekalan wacana dan pisau analisis jurnalis yang baru dan progres. Namun
harapan yang berpusat di aula itu tak begitu penting dan tidak perlu diketahui
oleh seorang tukang kebun bernama Haerudin. Bekerja selama 4 tahun mengurusi
perkebunan wisma bukan berarti ia ikut terpengaruh dengan kegiatan yang ada
wisma. Apa yang menurut diruang aula sebagai ide besar dan harapan, ternyata di
luar aula mempunyai ruang dan dunia ideal yang berbeda. Ia hanya berharap agar rumput-rumput terlihat
indah dengan warna hijau segar. Bergegas pulang untuk melihat sambutan istri
membayangi tiap kali bekerja.
Sebagai warga
pribumi, ia tak mengerti mengapa harus membersihkan tanah orang lain dari
tempat kelahirannya sendiri. Dengan wajah yang keriput dan berkepala 5 ia tak
paham tanah-tanah yang sudah dikapling-kapling oleh villa, hanya menyisakan
sepetak tanpa halaman untuk pak haerudin. Justru merawat dari tempat yang tak
ada daya kuasa untuk dirinya. deru mesin rumput dijadikan sebagai music blues
yang meneriakan dari harapan-harapan kecilnya. Sapu lidi yang menyapu sampah
kering dedaunan tak mengingatkan akan profesinya sebagai tukang kebun
tersubordinasi dan tersingkirkan dari pemikiran dominan modern. Makna pribumi tidaklah begitu penting bagi pak
Haerudin, ketika hal itu ditukar dengan uang kurang dari 600 ribu rupiah yang
dibawa pulang kerumah. Cukup mengganti kata “pribumi” menjadi “mie instan”.
Cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Walaupun 3 anak yang sudah
berumah tangga semuanya juga kerap kali membantu masalah dapur.
Ketika kebun di
sekitar wisma dijadikan pemuas hawa nafsu mata akan imaji alam yang asri. Di
sana juga tersiram cucuran keringat bertahun-tahun dari pak haerudin yang
menjadi orang tua dari tanaman-tanaman yang ada. Pilihan ini dijalani dengan
ketulusan sebagai bentuk kewajiban untuk mendapatkan hak perutnya. Ia bukanlah
aktivis yang berbicara akan teori lingkungan. Apakah pak Haerudin termasuk
sebagai pengambilan peran seperti akativis? Menurut mas Aat; ia dengan terang
menegaskan sebagai pekerja tukang kebun mengambil peran dalam lingkungan hijau,
dari pada aktivis lingkungan yang secara sembunyi-sembunyi mencari dana-dana
proposal bocor tanpa ada tindakan riil. Pak Haerudin walaupun dia bekerja demi
mendapakan uang, ia dengan tulus dan merawat tanaman. Karena tanaman perlu
dirawat dan dibersihkan agar pertumbuhanya terjaga. Etos kata kerja yang susah ditemui di papan
tulis yang lepas dari dunia nyata. Di sini aku
temui apa arti kata kerja yang sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar