Halaman

KOTA CIREBON

Jumat, 04 Januari 2013

Kampus ku


Ambiguitas Dramaturgi Diskursus Kampus
Oleh: Muhamad Isomuddin
23 Maret 2012

lama kita berjalan menyusuri lorong kampus yang cukup megah dengan pandangan buta. Tak melihat di kampus itu terdapat mahasiswa, dosen dan guru besar yang disebut sebagai agent of knowledge. Ataukah mungkin kita lupa bahwa kampus mempunyai fakultas, jurusan, UKM yang menjadi sarana mengkaji keilmuan sebagai suatu system akademik formal. Yang bisa kita lihat hanyalah beton kekar akademik formal tanpa besi keintelektualitsan yang mengokohkanya. Keintelektualitasan di dalam kampus rupanya belum mampu mencapai kesadaran ontologis intelektual yang melampaui berbagai formalitas, pragmatis dan system.
Pertunjukan dramaturgi kaum intelektual di kampus, rupanya begitu gencar untuk dipertontonkan pada khalayak umum. Layaknya kejar tayang dalam sebuah sinetron, sisi peran front stage begitu dikedepankan sebagai sebuah topeng ilusi keberadaan. Terlihat dengan kegiatan mahasiswa yang penuh dengan agenda ceremonial (pelantikan, penerimaan anggota, seminar dan pemampangan bendera) tercantum sebagai program  kerja utama. Ironisnya, sisi back stage yang seharusnya menjadi nilai pokok identitas malah menjadi rapuh bahkan tak pernah diperhatikan. Pembekalan keintelektualitasan terhadap individu pada wadah yang ada, sudah dikesampingkan atau dilupakan proses inti hanya untuk tujuan dominan eksistensi.
Perlu kiranya kita menilisik keadaan-keadaan tersebut sebagai analasis kelindannya wahana diskursus di Kampus. Apakah wahana diskursus sudah ada sebagai cerminan dari kaum inteletual? Ataukah kita tak sadar akan ambang batas dramaturgi kita kita perankan sendiri?. Mungkin ada sebuah kekeliruan ideologis dalam pertunjukan yang diperankan penghuni kampus untuk menciptakan sebuah ruang diskursus. Obsesi untuk menunjukan keberadaan akan sebuah gengsi, rupanya menjangkiti kaum intelektual di sekitar kita. Tak begitu sembrono kalau kaum intelektual di kampus kita, disamakan dengan kaum hippies. Dimana ramai akan sebuah acara ceremonial, tak mau ketinggalan untuk mengadakan hal serupa, cuma karena untuk pembuktian persamaan.
Pembangunan kerajaan untuk diri sendiri terus digencarkan untuk mengejar pengakuan persamaan tanpa adanya dialog lintas kerajaan yang membentuk kekontradiktifan yang terdapat sebagai formasi diskursif. Sebaliknya usaha-usaha yang dilakukan untuk menghilangkan kekontradiksi-kontradiksi untuk menggambarkan ide yang keheren dan kontuinitas. Suatu kontradiksi merupakan fitrah eksistensi, sebagai dasar lahirnya diskursus, kontradiksi ada sebagai sebuah dialektika pengetahuan dan kebenaran. Sayangnya, yang muncul dalam permukaaan cukup mewarnai dunia intelektual di Kampus hanyalah pergulatan kepentingan politik antar bendera. Sesuai dengan prinsip kontestasi yang didefinisikan oleh Blanchot. Diskursus dalam kaum intelektual dengan kontradiksi pewacanaan tidaklah mengafirmasi ataupun menegasikan. Yang membawa pada sebuah batas-batas, dari sang bataslah keputusan ontologis tercapai.
Redupnya diskursus kaum intelektual menempatkan pada posisi ambigu terhadap kita semua sebagai objek ilmu pengetahuan atau sebagai subjek yang mengetahui. Sebagai contoh kecil, ketika kita melihat sebuah buku tebal saja sudah mempunyai pikiran yang bermacam-macam persepsi (pusing, susah dan kapan selesai dibacanya) terhadap buku yang belum dibaca. Hal ini merupakan ketakutan kekanak-kanakan yang masih bercokol dalam mindset kita. Apalagi untuk beranjak pada ruang diskusi akan mendapati hambatan menyerupa tembok cina. Imajinasi yang begitu memenjarakan atau pengetahuan begitu menguasai diri kita, sehingga dengan mudah diri kita dikendalikan atas kekuasaan. Penguasaan ilmu pengetahuan terhadap manusia sebagai objek melunturkan peran manusia sebagai subjek yang mengetahui.
Ruang diskursus yang ada di kampus terus digerogoti permasalahan yang tidak tunggal. Fenomena pertukaran dunia keintelektualitas dengan ekonomi sangat kentara adanya dan sekaligus mengalami sebuah kerancuan makna. Karena tidak semua pertukaran adalah proses komunikasi. Adanya pergeseran nilai guna menjadi nilai tukar di dunia keintelektualitasan, berkonsekuensi logis dengan sikap pragmatis terhadap kaum intelektual. Proses dialog keilmuan digantikan dengan konsolidasi materi keuntungan individual akan semakin akut dilakukan secara kontiunitas, akan berakibat pada matinya sebuah budaya.
Peranan front stage jelas terlihat sebab dan untuk tujuan apa begitu dipertotonkan kearah depan panggung. Gejala-gejala krisis ideologis pada diri kaum intelektual terkikis habis karena adanya pergeseran nilai dalam keilmuan menjadi sebuah komoditas. Sisi back stage dianggap tidak penting untuk diadakan pada depan panggung. Maksud dari back stage adalah suatu identitas asli pada sisi yang sebanarnya. Suatu organisasi pastilah mempunyai kegiatan intern untuk tujuan pembakalan individunya atau bahkan mempunyai misi. Namun, proses untuk membentuk identitas asli yang mempunyai karakter tersendiri yang khas, sehingga membentuk sebuah pola karakter yang satu dengan yang lainya berbeda.
Pementasan dramaturgi di kampus nampaknya cukup untuk kita tonton telalu lama. Peran acting sinetron yang menimpa kaum intelektual hanya untuk mencari sensasi, merupakan sebuah keironisan dari rapuhnya fondasi keintelektualitasan. Kesibukan yang ada pada diri kaum intelektualitas adalah kegiattan yang berkonsen pada ranah eksotorik saja. Dapat kita lihat aktivitas yang ada di kampus diluar perkuliahan akademik sangat keringa adanya. Diskusi kelas tanpa dingding jarang kita temui di ruang lingkup sekitar penghuni kampus. Disadari atau tidak hal ini merupakan kemandegan dari budaya keintelektualitas sendiri karena informasi tidak dikonsumsi secara berkelanjutan hanya mandeg pada satu titik saja.
Menghidupkan budaya keintelektualitasan yang dipenuhi dengan ruang-ruang diskursus dilandaskan pada kesadaran masing-masing individu. Awal kasadaran individu yang menginformasikanya kepada individu yang lain ini akan membentuk signifikasi yang dapat dikomunikasikan secara actual. setiap orang yang ‘sadar’ mengetahui sesuatu pastilah ingin mengetahuinya karena ingin melakukan sesuatu. Jika dia menyatakan bahwa dia ingin mengetahuinya hanya karena ingin ‘tahu’ belaka. bukan karena ingin berbuat. Itu berarti di ingin mengetahuinya tanpa berbuat apa-apa. Membiarkan dunia sebagai mana adanya atau sebagai mana yang dia bayangkan sendiri. Hal serupa adalah sikap orang yang memunafikan diri, ingin lari dari duduk termenung.
pandangan nalar kita seolah berimajinasi bahwa kampus merupakan ruang dialektika keilmuan yang progresif dan menggairahkan. Namun pemberhalaan peran front stage penghuni kampus untuk menunjukan eksistensi untuk suatu komoditas menyiratkan ‘krisis ideologis’, nampak kita mesti mengkaji ulang persepsi kita. Bukan sebuah utopis jika kita berharap kampus menjadi kawah ‘candra dimuka’ bagi kaum intelektual yang memang menjadi tumpuan bangsa. Menghidupkan ruang diskursus dalam dunia kecil keintelektualitasan merupakan hal yang tak bisa ditawar lagi. Mahasiswa, dosen dan guru besar yang disebut sebagi kaum intelektual di kampus, secapatnya harus sadar akan dosa pengabu-abuan keilmuan yang diperbuat. Agar konsep dialektika untuk membentuk sebuah wahana diskursus pada lorong-lorong kampus bukanlah hal yang utopis, fungsi dan peran kampus kembali pada proporsinya sebagai wahana diskursus keintelektualitasan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar