Ambiguitas Dramaturgi Diskursus
Kampus
Oleh:
Muhamad Isomuddin
23 Maret
2012
lama kita berjalan menyusuri
lorong kampus yang cukup megah dengan pandangan buta. Tak melihat di kampus itu
terdapat mahasiswa, dosen dan guru besar yang disebut sebagai agent of
knowledge. Ataukah mungkin kita lupa bahwa kampus mempunyai fakultas, jurusan,
UKM yang menjadi sarana mengkaji keilmuan sebagai suatu system akademik formal.
Yang bisa kita lihat hanyalah beton kekar akademik formal tanpa besi
keintelektualitsan yang mengokohkanya. Keintelektualitasan di dalam kampus
rupanya belum mampu mencapai kesadaran ontologis intelektual yang melampaui berbagai
formalitas, pragmatis dan system.
Pertunjukan dramaturgi kaum intelektual
di kampus, rupanya begitu gencar untuk dipertontonkan pada khalayak umum.
Layaknya kejar tayang dalam sebuah sinetron, sisi peran front stage begitu dikedepankan sebagai sebuah topeng ilusi
keberadaan. Terlihat dengan kegiatan mahasiswa yang penuh dengan agenda
ceremonial (pelantikan, penerimaan anggota, seminar dan pemampangan bendera)
tercantum sebagai program kerja utama. Ironisnya,
sisi back stage yang seharusnya
menjadi nilai pokok identitas malah menjadi rapuh bahkan tak pernah
diperhatikan. Pembekalan keintelektualitasan terhadap individu pada wadah yang ada,
sudah dikesampingkan atau dilupakan proses inti hanya untuk tujuan dominan
eksistensi.
Perlu kiranya kita menilisik
keadaan-keadaan tersebut sebagai analasis kelindannya wahana diskursus di
Kampus. Apakah wahana diskursus sudah ada sebagai cerminan dari kaum
inteletual? Ataukah kita tak sadar akan ambang batas dramaturgi kita kita
perankan sendiri?. Mungkin ada sebuah kekeliruan ideologis dalam pertunjukan
yang diperankan penghuni kampus untuk menciptakan sebuah ruang diskursus. Obsesi
untuk menunjukan keberadaan akan sebuah gengsi, rupanya menjangkiti kaum
intelektual di sekitar kita. Tak begitu sembrono kalau kaum intelektual di
kampus kita, disamakan dengan kaum hippies.
Dimana ramai akan sebuah acara ceremonial, tak mau ketinggalan untuk mengadakan
hal serupa, cuma karena untuk pembuktian persamaan.
Pembangunan kerajaan untuk diri
sendiri terus digencarkan untuk mengejar pengakuan persamaan tanpa adanya
dialog lintas kerajaan yang membentuk kekontradiktifan yang terdapat sebagai
formasi diskursif. Sebaliknya usaha-usaha yang dilakukan untuk menghilangkan
kekontradiksi-kontradiksi untuk menggambarkan ide yang keheren dan kontuinitas.
Suatu kontradiksi merupakan fitrah eksistensi, sebagai dasar lahirnya
diskursus, kontradiksi ada sebagai sebuah dialektika pengetahuan dan kebenaran.
Sayangnya, yang muncul dalam permukaaan cukup mewarnai dunia intelektual di
Kampus hanyalah pergulatan kepentingan politik antar bendera. Sesuai dengan
prinsip kontestasi yang didefinisikan oleh Blanchot. Diskursus dalam kaum
intelektual dengan kontradiksi pewacanaan tidaklah mengafirmasi ataupun
menegasikan. Yang membawa pada sebuah batas-batas, dari sang bataslah keputusan
ontologis tercapai.
Redupnya diskursus kaum
intelektual menempatkan pada posisi ambigu terhadap kita semua sebagai objek
ilmu pengetahuan atau sebagai subjek yang mengetahui. Sebagai contoh kecil, ketika
kita melihat sebuah buku tebal saja sudah mempunyai pikiran yang bermacam-macam
persepsi (pusing, susah dan kapan selesai dibacanya) terhadap buku yang belum
dibaca. Hal ini merupakan ketakutan kekanak-kanakan yang masih bercokol dalam mindset kita. Apalagi untuk beranjak
pada ruang diskusi akan mendapati hambatan menyerupa tembok cina. Imajinasi
yang begitu memenjarakan atau pengetahuan begitu menguasai diri kita, sehingga
dengan mudah diri kita dikendalikan atas kekuasaan. Penguasaan ilmu pengetahuan
terhadap manusia sebagai objek melunturkan peran manusia sebagai subjek yang mengetahui.
Ruang diskursus yang ada di
kampus terus digerogoti permasalahan yang tidak tunggal. Fenomena pertukaran
dunia keintelektualitas dengan ekonomi sangat kentara adanya dan sekaligus mengalami
sebuah kerancuan makna. Karena tidak semua pertukaran adalah proses komunikasi.
Adanya pergeseran nilai guna menjadi nilai tukar di dunia keintelektualitasan,
berkonsekuensi logis dengan sikap pragmatis terhadap kaum intelektual. Proses dialog
keilmuan digantikan dengan konsolidasi materi keuntungan individual akan
semakin akut dilakukan secara kontiunitas, akan berakibat pada matinya sebuah
budaya.
Peranan front stage jelas terlihat sebab dan untuk tujuan apa begitu
dipertotonkan kearah depan panggung. Gejala-gejala krisis ideologis pada diri
kaum intelektual terkikis habis karena adanya pergeseran nilai dalam keilmuan
menjadi sebuah komoditas. Sisi back stage
dianggap tidak penting untuk diadakan pada depan panggung. Maksud dari back
stage adalah suatu identitas asli pada sisi yang sebanarnya. Suatu organisasi
pastilah mempunyai kegiatan intern untuk tujuan pembakalan individunya atau
bahkan mempunyai misi. Namun, proses untuk membentuk identitas asli yang
mempunyai karakter tersendiri yang khas, sehingga membentuk sebuah pola
karakter yang satu dengan yang lainya berbeda.
Pementasan dramaturgi di kampus
nampaknya cukup untuk kita tonton telalu lama. Peran acting sinetron yang
menimpa kaum intelektual hanya untuk mencari sensasi, merupakan sebuah
keironisan dari rapuhnya fondasi keintelektualitasan. Kesibukan yang ada pada
diri kaum intelektualitas adalah kegiattan yang berkonsen pada ranah eksotorik
saja. Dapat kita lihat aktivitas yang ada di kampus diluar perkuliahan akademik
sangat keringa adanya. Diskusi kelas tanpa dingding jarang kita temui di ruang
lingkup sekitar penghuni kampus. Disadari atau tidak hal ini merupakan
kemandegan dari budaya keintelektualitas sendiri karena informasi tidak
dikonsumsi secara berkelanjutan hanya mandeg pada satu titik saja.
Menghidupkan budaya
keintelektualitasan yang dipenuhi dengan ruang-ruang diskursus dilandaskan pada
kesadaran masing-masing individu. Awal kasadaran individu yang
menginformasikanya kepada individu yang lain ini akan membentuk signifikasi yang
dapat dikomunikasikan secara actual. setiap orang yang ‘sadar’ mengetahui
sesuatu pastilah ingin mengetahuinya karena ingin melakukan sesuatu. Jika dia
menyatakan bahwa dia ingin mengetahuinya hanya karena ingin ‘tahu’ belaka.
bukan karena ingin berbuat. Itu berarti di ingin mengetahuinya tanpa berbuat
apa-apa. Membiarkan dunia sebagai mana adanya atau sebagai mana yang dia
bayangkan sendiri. Hal serupa adalah sikap orang yang memunafikan diri, ingin
lari dari duduk termenung.
pandangan
nalar kita seolah berimajinasi bahwa kampus merupakan ruang dialektika keilmuan
yang progresif dan menggairahkan. Namun pemberhalaan peran front stage penghuni
kampus untuk menunjukan eksistensi untuk suatu komoditas menyiratkan ‘krisis
ideologis’, nampak kita mesti mengkaji ulang persepsi kita. Bukan sebuah utopis
jika kita berharap kampus menjadi kawah ‘candra dimuka’ bagi kaum intelektual
yang memang menjadi tumpuan bangsa. Menghidupkan ruang diskursus dalam dunia
kecil keintelektualitasan merupakan hal yang tak bisa ditawar lagi. Mahasiswa,
dosen dan guru besar yang disebut sebagi kaum intelektual di kampus, secapatnya
harus sadar akan dosa pengabu-abuan keilmuan yang diperbuat. Agar konsep
dialektika untuk membentuk sebuah wahana diskursus pada lorong-lorong kampus
bukanlah hal yang utopis, fungsi dan peran kampus kembali pada proporsinya sebagai wahana
diskursus keintelektualitasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar