Halaman

KOTA CIREBON

Jumat, 04 Januari 2013

Nietzsche sepintas


Akar Terbakar Untuk Abu yang Menjanjikan
Oleh : Muhamad Isomuddin

“Kita akan berjalan diantara mayat-mayat
yang bergelimpangan—lengkap dengan harumnya”

Bangunan penuh dengan simbol-simbol penuh makna kesakralan, orang bertopi kecil menenteng al-Kitab, rumah Tuhan itu begitu di agungkan. Ratusan orang ingin mengobati kegelisahan dengan memohon kesucian atas dogma yang dilepaskan dari tentengan pendeta. Propaganda kesalihan dan ketertundukan terhadap ucapan-ucapan “suci” yang sudah termaktub dalam al-Kitab, terus dipanjangkan lidahnya dari pintu ke pintu. Memberikan pengetahuan nilai-nilai absolut untuk memahami apa yang dianggapnya paling penting. Kehidupan manusia  penuh dengan dinamika yang tak bisa ditebak, dari apa badai atau hembusan angin segar di depanya. Kecemasan dan ketakutan akan kehidupan. Penawaran obat sang pendeta akan kecamasan yang ada dalam diri manusia adalah wahyu. Sarana pemilihara kehidupan manusia akan datangnya ancaman ataupun kecemasan dalam diri manusia, yang membuatnya aman dan nyaman dengan kemutlakanya.
Ketidakberdayaan orang melepaskan kebiasaan kenyaman dari belenggu polusi moral Gereja yang sudah ditebarkan oleh para pendeta. Penyerahan diri pada Tuhan yang melampaui segalanya, adalah modal kaum agamawan untuk menancapkan dogma-dogma—berikut dengan seperangkat peraturan yang memenjarakan kebebasan. Rupanya, polusi yang sudah cukup banyak mencemari udara di dunia ini, berusaha di hentikan oleh orang-orang yang sadar akan akalnya. Mungkin boleh kita tafsirkan mereka ingin merasa bebas dengan melepaskan ketuhananya, hal ini juga yang dikatakan oleh jean paul sartre mengungkapkan “Kita hanya dapat mengambil salah satu diantara dua sebagai  dia bebas berarti tidak berasal dari Tuhan, atau jika ia bergantung pada Tuhan maka ia tidak bebas”.[1] Periode yang menggantikan ukuran akan sebuah kebenaran yang oleh gereja di tumpukan secara sepenuhnya pada Tuhan, digantikan pada periode Renaisans sebagai tantangan kepercayaan Keagamaan dengan mendewakan akal. Ini terlihat pada pada pemikiran Descarates, yang melalui wawasan humanismenya, menjadikan manusia—dengan segala kemampuan rasionalnya—sebagai subjek yang mampu memecahkan masalah dunia. Inilah awal dari keterputusan dari Tuhanya sebagai subjek yang merdeka, self-determination dan self-affirmation.[2] Hal ini akan mengantarkan kita pada zaman Pencerahan (Aufklarung) atau dikerucutkan lagi oleh Hegel dengan memahkotakan pengetahuan dari apa yang disebut dengan kebenaran Ideal (Spirit), menggantikan mitos atau wahyu[3].
`           Mematikan Tuhan dalam Gereja tidak mengartikan membunuh tuhan-tuhan yang lainnya. Pada zaman Renaisans yang berhasil mematikan Tuhan Gereja, namun ia juga membuat model jelmaan Tuhan baru yaitu akal. Ini kurang lebih atau tidak berbeda jauh dengan keadaan manusia yang masih takut akan kecemasanya dalam hidup. Sehingga masih butuh sandaran-sandaran yang menopangnya untuk berjalan menjelajah dunia. Sesuai dengan aforisme nietzche yang dikatakan sebagai manusia yang takut berlayar ke samudra yang penuh dengan ancaman ombak. Sehingga dia membuat pulau baru dari pulau yang sudah dihancurkan sebelumnya. Inilah yang dikritik akan adanya nilai baru yang akhirnya dimutlakan. Nilai yang ada diruntuhkan dengan devaluasi  nilai Tertinggi, membuat keadaan kritis terus-menerus tanpa ada sandaran. Runtuhnya nilai-nilai merupakan keadaan normal dan akibat yang harus terjadi[4] dalam kehidupan.
            Manusia tidak membutuhkan landasan nilai, kebenaran dan legitimasi selain dari dirinya sendiri. Keterputusan dari nilai-nilai, mitos, spirit ketuhanan memungkinkan manusia mengukir sejarahnya sendiri di dunia. Nihilisme yang dibangun oleh nietzche dengan cara mendekontruksi semuanya dan membiarkan tercerai berai, memang begitu extremnya. Jika dibandingkan dengan teman sejawatnya yang menggerogoti landasan filosofis modern menuju posmodernitas yaitu Heidegger dengan konsep diferensi[5]. Pemikiran yang menolak akan adanya peninggian nilai yang membentuk oposisi biner, menegasikan, mengkontradiksikan. Berakibat adanya pihak yang dipenjarakan yang berarti bertentangan dengan konsep kebebasan manusia yang sudah dikutip diawal. Keadaan kritis dengan  runtuhnya semua sandaran-sandaran, nilai-nilai kehidupan berkulminasi dengan teriakan Tuhan sudah mati.  Dalam bahasa aforismenya, hari-hari yang dilalui malam berkepanjangan lengkap dengan kegentingan akan keabsurdan tujuan hidup. Itu semua bukan hal yang harus ditolak, namun kita terima dengan sekaligus mengatasinya.
            Keruntuhan nilai-nilai tidak mengartikan penghilangan semua nilai atau ketiadaan nilai. Karena mempresentasikan Kematian tuhan-tuhan juga tidak mengembalikan kita pada zaman sebelumnya yang membuat jelamaan tuhan baru. untuk mengatasi penderitaan dan kebahagiaan atas kematian Tuhan, dalam kunci pemikirinya adalah belajar mengingat sejarah pada saat yang tepat dan melupakan sejarah pada saat yang tepat[6], Ditambah lagi dengan lampauan sejarah. Maksud dari lampauan sejarah yang dikatakan nietzsche, itu ditemukan dalam sebuah Tragedy yunani kuno dengan dionisian dan apollian. Seni yang menggambarkan pergolakan hidup penuh dengan keabsurdan dan kengerian dalam hidup, dihayati oleh individu untuk mengungkap arus hidup itu sendiri[7]. Keharmonisan antara kedua ini yang mampu memberikan keberanian dalam hidup yang kritis dan mengatasinya. Penekanan dalam pengendalian diri untuk mengatasi pergolakan yang ada merupakam kunci mengatasi keabsurdan kehidupan—kehendak untuk berkuasa. Nilihilisme yang akan utuh jika dengan konsep kehendak untuk berkuasa dalam tujuan kepada sampai pada Ubermensch, namun nihilisme lebih merupakan semangat zaman dari pada suatu doktrin atau sikap filsuf secara individual.[8]
            Transvaluasi nilai yang begitu kentalnya dalam pembahasan nihilisme, dengan banyak penggunaan bahasa meruntuhkan nilai, kematian Tuhan. Tidak mengartikan bahwa nietzsche sebagai tokohnya yang membuat kekritisan ini, mengajukan nilai baru dan meninggalkan nilai lama. Transvaluasi dapat dilihat sebagai suatu konsepsi baru untuk mengadakan penilaian atas seluiruh kegiatan manusia, nilai-nilai tetap dihargai karena tanpa itu tidak dapat berkembang dan dapat juga runtuh jika tidak sesuai dengan prinsip kehendak untuk berkuasa. Hal ini merupakan insight bagi kita, tak perlu kita takut atau menolaknya karena ini yang membuat kita sebagai Manusia Ideal. Perahu akan tetap berlayar—sekalipun layar terobek badai, namun pengajaran oleh matahari dan bulan itulah roda kekuasaan yang bertambah.


 


[1] Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Drs. H. Muzairi, MA, Pustaka Pelajar 2002,  Hal 147
[2] Hipersimiotika, Yasraf Amir Piliangan, Jalasutra 2010, Hal 73
[3] Konsep Zeitgeist Hegel
[4] Nietzsche, St Sunardi, LKIS, 2011, hal 40
[5] Hipersemiotika, Hal 78
[6] Nietzsche, Hal 28
[7] Nietzsche, hal 75
[8] Nietzsche, Hal 41

Tidak ada komentar:

Posting Komentar