Akar Terbakar Untuk Abu yang Menjanjikan
Oleh
: Muhamad Isomuddin
“Kita akan berjalan diantara mayat-mayat
yang bergelimpangan—lengkap dengan harumnya”
Bangunan penuh
dengan simbol-simbol penuh makna kesakralan, orang bertopi kecil menenteng
al-Kitab, rumah Tuhan itu begitu di agungkan. Ratusan orang ingin mengobati
kegelisahan dengan memohon kesucian atas dogma yang dilepaskan dari tentengan
pendeta. Propaganda kesalihan dan ketertundukan terhadap ucapan-ucapan “suci”
yang sudah termaktub dalam al-Kitab, terus dipanjangkan lidahnya dari pintu ke
pintu. Memberikan pengetahuan nilai-nilai absolut untuk memahami apa yang
dianggapnya paling penting. Kehidupan manusia penuh dengan dinamika yang tak bisa ditebak,
dari apa badai atau hembusan angin segar di depanya. Kecemasan dan ketakutan
akan kehidupan. Penawaran obat sang pendeta akan kecamasan yang ada dalam diri
manusia adalah wahyu. Sarana pemilihara kehidupan manusia akan datangnya ancaman
ataupun kecemasan dalam diri manusia, yang membuatnya aman dan nyaman dengan
kemutlakanya.
Ketidakberdayaan orang
melepaskan kebiasaan kenyaman dari belenggu polusi moral Gereja yang sudah
ditebarkan oleh para pendeta. Penyerahan diri pada Tuhan yang melampaui
segalanya, adalah modal kaum agamawan untuk menancapkan dogma-dogma—berikut
dengan seperangkat peraturan yang memenjarakan kebebasan. Rupanya, polusi yang
sudah cukup banyak mencemari udara di dunia ini, berusaha di hentikan oleh
orang-orang yang sadar akan akalnya. Mungkin boleh kita tafsirkan mereka ingin
merasa bebas dengan melepaskan ketuhananya, hal ini juga yang dikatakan oleh
jean paul sartre mengungkapkan “Kita hanya dapat mengambil salah satu diantara
dua sebagai dia bebas berarti tidak
berasal dari Tuhan, atau jika ia bergantung pada Tuhan maka ia tidak bebas”.[1]
Periode yang menggantikan ukuran akan sebuah kebenaran yang oleh gereja di
tumpukan secara sepenuhnya pada Tuhan, digantikan pada periode Renaisans
sebagai tantangan kepercayaan Keagamaan dengan mendewakan akal. Ini terlihat
pada pada pemikiran Descarates, yang melalui wawasan humanismenya, menjadikan
manusia—dengan segala kemampuan rasionalnya—sebagai subjek yang mampu
memecahkan masalah dunia. Inilah awal dari keterputusan dari Tuhanya sebagai
subjek yang merdeka, self-determination dan self-affirmation.[2]
Hal ini akan mengantarkan kita pada zaman Pencerahan (Aufklarung) atau dikerucutkan
lagi oleh Hegel dengan memahkotakan pengetahuan dari apa yang disebut dengan
kebenaran Ideal (Spirit), menggantikan mitos atau wahyu[3].
` Mematikan Tuhan dalam Gereja tidak mengartikan membunuh
tuhan-tuhan yang lainnya. Pada zaman Renaisans yang berhasil mematikan Tuhan
Gereja, namun ia juga membuat model jelmaan Tuhan baru yaitu akal. Ini kurang
lebih atau tidak berbeda jauh dengan keadaan manusia yang masih takut akan
kecemasanya dalam hidup. Sehingga masih butuh sandaran-sandaran yang
menopangnya untuk berjalan menjelajah dunia. Sesuai dengan aforisme nietzche
yang dikatakan sebagai manusia yang takut berlayar ke samudra yang penuh dengan
ancaman ombak. Sehingga dia membuat pulau baru dari pulau yang sudah
dihancurkan sebelumnya. Inilah yang dikritik akan adanya nilai baru yang
akhirnya dimutlakan. Nilai yang ada diruntuhkan dengan devaluasi nilai Tertinggi, membuat keadaan kritis
terus-menerus tanpa ada sandaran. Runtuhnya nilai-nilai merupakan keadaan
normal dan akibat yang harus terjadi[4]
dalam kehidupan.
Manusia tidak membutuhkan landasan nilai, kebenaran dan
legitimasi selain dari dirinya sendiri. Keterputusan dari nilai-nilai, mitos,
spirit ketuhanan memungkinkan manusia mengukir sejarahnya sendiri di dunia.
Nihilisme yang dibangun oleh nietzche dengan cara mendekontruksi semuanya dan
membiarkan tercerai berai, memang begitu extremnya. Jika dibandingkan dengan teman
sejawatnya yang menggerogoti landasan filosofis modern menuju posmodernitas
yaitu Heidegger dengan konsep diferensi[5].
Pemikiran yang menolak akan adanya peninggian nilai yang membentuk oposisi
biner, menegasikan, mengkontradiksikan. Berakibat adanya pihak yang
dipenjarakan yang berarti bertentangan dengan konsep kebebasan manusia yang
sudah dikutip diawal. Keadaan kritis dengan
runtuhnya semua sandaran-sandaran, nilai-nilai kehidupan berkulminasi
dengan teriakan Tuhan sudah mati. Dalam
bahasa aforismenya, hari-hari yang dilalui malam berkepanjangan lengkap dengan
kegentingan akan keabsurdan tujuan hidup. Itu semua bukan hal yang harus
ditolak, namun kita terima dengan sekaligus mengatasinya.
Keruntuhan nilai-nilai tidak mengartikan penghilangan
semua nilai atau ketiadaan nilai. Karena mempresentasikan Kematian tuhan-tuhan
juga tidak mengembalikan kita pada zaman sebelumnya yang membuat jelamaan tuhan
baru. untuk mengatasi penderitaan dan kebahagiaan atas kematian Tuhan, dalam
kunci pemikirinya adalah belajar mengingat sejarah pada saat yang tepat dan
melupakan sejarah pada saat yang tepat[6],
Ditambah lagi dengan lampauan sejarah. Maksud dari lampauan sejarah yang
dikatakan nietzsche, itu ditemukan dalam sebuah Tragedy yunani kuno
dengan dionisian dan apollian. Seni yang menggambarkan pergolakan hidup penuh
dengan keabsurdan dan kengerian dalam hidup, dihayati oleh individu untuk
mengungkap arus hidup itu sendiri[7].
Keharmonisan antara kedua ini yang mampu memberikan keberanian dalam hidup yang
kritis dan mengatasinya. Penekanan dalam pengendalian diri untuk mengatasi
pergolakan yang ada merupakam kunci mengatasi keabsurdan kehidupan—kehendak
untuk berkuasa. Nilihilisme yang akan utuh jika dengan konsep kehendak untuk
berkuasa dalam tujuan kepada sampai pada Ubermensch, namun nihilisme lebih
merupakan semangat zaman dari pada suatu doktrin atau sikap filsuf secara
individual.[8]
Transvaluasi nilai yang begitu kentalnya dalam pembahasan
nihilisme, dengan banyak penggunaan bahasa meruntuhkan nilai, kematian Tuhan.
Tidak mengartikan bahwa nietzsche sebagai tokohnya yang membuat kekritisan ini,
mengajukan nilai baru dan meninggalkan nilai lama. Transvaluasi dapat dilihat
sebagai suatu konsepsi baru untuk mengadakan penilaian atas seluiruh kegiatan
manusia, nilai-nilai tetap dihargai karena tanpa itu tidak dapat berkembang dan
dapat juga runtuh jika tidak sesuai dengan prinsip kehendak untuk berkuasa. Hal
ini merupakan insight bagi kita, tak perlu kita takut atau menolaknya
karena ini yang membuat kita sebagai Manusia Ideal. Perahu akan tetap
berlayar—sekalipun layar terobek badai, namun pengajaran oleh matahari dan
bulan itulah roda kekuasaan yang bertambah.
[1] Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Drs. H. Muzairi, MA, Pustaka
Pelajar 2002, Hal 147
[2] Hipersimiotika, Yasraf Amir Piliangan, Jalasutra 2010, Hal 73
[3] Konsep Zeitgeist Hegel
[4] Nietzsche, St Sunardi, LKIS, 2011, hal 40
[5] Hipersemiotika, Hal 78
[6] Nietzsche, Hal 28
[7] Nietzsche, hal 75
[8] Nietzsche, Hal 41
Tidak ada komentar:
Posting Komentar