Halaman

KOTA CIREBON

Jumat, 04 Januari 2013

Kebebasan beragama


Keberagaman menuntut Kebebasan
12 mei 2012

Pemahaman terhadap perbedaan pandangan masih belum dipahami sebagai suatu hal alamiah oleh beberapa orang di sekitar kita. Padahal perbedaan diantara individu satu dengan yang  lainya adalah hal natural. Karena individu sebagai mahluk ciptaan Tuhan dianugerahi pikiran dan hati memiliki keunikan yang berbeda satu sama lain. Imajinasi selalu setia menemani kita dalam memproyeksikan dan mereflesikannya dalam bentuk riil. Ketika ada sebuah pemaksaan oleh pihak lain untuk “menyamakan” dari “perbedaan” pemikiran sangatlah lucu. Kiranya patut kita pertanyakan, apakah ini manusia benar-benar manusia ataukah kalau kita bedah kepala dan dadanya berisi ikatan kabel-kabel dan chip seperti robot ? Pemikiran akan menjadi sebuah kontroversi besar jika bersentuhan dengan agama atau kaum agama sengaja menyentuhkan pada wilayah tersebut.
Masih kita ingat tanggapan segelintir ormas islam yang tidak setuju akan konser Lady Gaga di Jakarta karena “embel-embel” ada simbol kafir. Apa hubungannya seni musik dengan agama? Haruskah ditarik semua persoalan pada agama, apalagi agama yang menurut kaum ambisisus dan egois. Memang terlalu memaksakan libido keagamaannya yang tak tertampung itu. Tersirat dalam pikiran kita bahwa beragama kurang sempurna jika belum melarang dan mengkafirkan. Padahal pewartaan agama pada awalnya bukan hanya bertindak sebagai juru dakwah, namun sebagai pejuang dan pembela kaum tertindas. Mungkin telah terjadi pergeseran orientasi setelah berabad-abad agama dilahirkan, sekarang pewarta agama malah menjadi pewarta korup untuk mengambil alih justifikasi Ilahiah.
Jika persoalan justifikasi sudah menjamur dikalangan pewarta agama seperti menarik hukum Tuhan untuk turun kebumi dan memperebutkan klaim kebenaran satu sama lain. Akankah mungkin agama dapat hidup harmonis tanpa adanya kebebasan, inovatif dan imajinatif ? Tentunya, menjadi barang yang sangat menakutkan bagi keberadaan manusia sebagai mahluk yang merdeka, jika peperangan justifikasi terus dipertontonkan. Memang kebebasan bukanlah suatu yang mudah, ia merupakan beban yang menuntut tanggung jawab individu. Kahlil Gibran pernah mengatakan bahwa tidak setuju akan kebebasan berbuat simbol, sebaliknya dia menyadari bahwa manusia benarbenar terbatas akan tindakan fisiknya. Satu-satunya kebebasan yang diterima adalah kebebasan berpikir.
Ada sebuah celah yang mendapakatkan tempat “benarbenar” bebas dan tidak dapat dihalanghalangi. Walaupun kita dibuang ke pulau terpencil, tangan diikat, mulut dibungkam, namun pemikiran tetap dalam cengkraman. Mungkin masih banyak sekali pikiran dan pertanyaan dalam diri kita yang belum sempat untuk diletupkan ke atas permukaan. Untuk mendorong pada ranah pertanyaan-pertanyaan yang lebih luas, tentulah wajib formulasi hadir
dipikiran kita. Pada tahap selajutnya pikiran dan pertanyaan akan samarsamar menuntut lahirnya formulasi baru dalam pikiran kita. Namun Kerapkali kita masih memunafikan apa yang ada dalam perasaan dan pikiran untuk diformulasikan karena ketakutan akan sebongkah ymbol aturan membayangi mindset. Diperlukan keberanian kebebasan berpikir, mengeluarkan uneg-uneg dengan terus terang  tanpa ketakutan sedikitpun termasuk kepada Tuhan sekalipun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar