Keberagaman menuntut Kebebasan
12 mei 2012
Pemahaman terhadap perbedaan pandangan masih
belum dipahami sebagai suatu hal alamiah oleh beberapa orang di sekitar kita.
Padahal perbedaan diantara individu satu dengan yang lainya adalah hal natural. Karena individu
sebagai mahluk ciptaan Tuhan dianugerahi pikiran dan hati memiliki keunikan
yang berbeda satu sama lain. Imajinasi selalu setia menemani kita dalam
memproyeksikan dan mereflesikannya dalam bentuk riil. Ketika ada sebuah
pemaksaan oleh pihak lain untuk “menyamakan” dari “perbedaan” pemikiran
sangatlah lucu. Kiranya patut kita pertanyakan, apakah ini manusia benar-benar manusia
ataukah kalau kita bedah kepala dan dadanya berisi ikatan kabel-kabel dan chip
seperti robot ? Pemikiran akan menjadi sebuah kontroversi besar jika
bersentuhan dengan agama atau kaum agama sengaja menyentuhkan pada wilayah tersebut.
Masih kita ingat tanggapan segelintir ormas islam
yang tidak setuju akan konser Lady Gaga di Jakarta karena “embel-embel” ada simbol
kafir. Apa hubungannya seni musik dengan agama? Haruskah ditarik semua
persoalan pada agama, apalagi agama yang menurut kaum ambisisus dan egois.
Memang terlalu memaksakan libido keagamaannya yang tak tertampung itu. Tersirat
dalam pikiran kita bahwa beragama kurang sempurna jika belum melarang dan
mengkafirkan. Padahal pewartaan agama pada awalnya bukan hanya bertindak
sebagai juru dakwah, namun sebagai pejuang dan pembela kaum tertindas. Mungkin
telah terjadi pergeseran orientasi setelah berabad-abad agama dilahirkan,
sekarang pewarta agama malah menjadi pewarta korup untuk mengambil alih
justifikasi Ilahiah.
Jika persoalan justifikasi sudah menjamur
dikalangan pewarta agama seperti menarik hukum Tuhan untuk turun kebumi dan memperebutkan
klaim kebenaran satu sama lain. Akankah mungkin agama dapat hidup harmonis
tanpa adanya kebebasan, inovatif dan imajinatif ? Tentunya, menjadi barang yang
sangat menakutkan bagi keberadaan manusia sebagai mahluk yang merdeka, jika
peperangan justifikasi terus dipertontonkan. Memang kebebasan bukanlah suatu
yang mudah, ia merupakan beban yang menuntut tanggung jawab individu. Kahlil
Gibran pernah mengatakan bahwa tidak setuju akan kebebasan berbuat simbol,
sebaliknya dia menyadari bahwa manusia benarbenar terbatas akan tindakan
fisiknya. Satu-satunya kebebasan yang diterima adalah kebebasan berpikir.
Ada sebuah celah yang mendapakatkan tempat
“benarbenar” bebas dan tidak dapat dihalanghalangi. Walaupun kita dibuang ke pulau
terpencil, tangan diikat, mulut dibungkam, namun pemikiran tetap dalam
cengkraman. Mungkin masih banyak sekali pikiran dan pertanyaan dalam diri kita
yang belum sempat untuk diletupkan ke atas permukaan. Untuk mendorong pada
ranah pertanyaan-pertanyaan yang lebih luas, tentulah wajib formulasi hadir
dipikiran
kita. Pada tahap selajutnya pikiran dan pertanyaan akan samarsamar menuntut
lahirnya formulasi baru dalam pikiran kita. Namun Kerapkali kita masih
memunafikan apa yang ada dalam perasaan dan pikiran untuk diformulasikan karena
ketakutan akan sebongkah ymbol aturan membayangi mindset. Diperlukan keberanian
kebebasan berpikir, mengeluarkan uneg-uneg dengan terus terang tanpa ketakutan sedikitpun termasuk kepada
Tuhan sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar