Rintihan Pantura
Ringkasan;
Budaya merupakan harta kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia.
Tumbuh berkembangnya bangsa ini, tidak terlepas dari budaya yang membentuk
karakter bangsa. Arus modernitas melintas tepat di garis khatulistiwa bangsa,
menimbulkan tantangan dan ketegangan terhadap kebudayaan sendiri. Mencoba
merangkai Indonesia lewat puzzle kecil bernama kota Cirebon. Kota yang punya
empat keraton, tak membuat nuansa erotis sensual kentara. Permasalahan ekonomi
yang menjepit pewaris kebudayaan, melakukan penyelewengan dengan menjual
warisan kebudayaan. Sapaan modernitas sudah terdengar oleh bangsa ini.
Menggiring pada bentuk masyarakat konsumtif dan ada paradoks dari kebudayaan.
Teks sudah diganti dengan praksis, bentuk asli dirubah menjadi imitasi, nilai
guna diganti dengan nilai liyan : prestice,status. Ini realita yang
penulis temukan di kota Cirebon. Budaya sedang kebingungan di persimpangan
jalan. Harus segera menentukan arah kemana budaya akan dibawa. Penyusunan strategi
dan langkah konkret merupakan keniscayaan bagi penempatan posisi kebudayaan.
Berangkat dari daerah, mengalisis sampai bertindak secara nyata untuk
memperjelas rupa budaya. Dan dipersembahkan untuk Indonesia yang berbudaya luhur dalam menciptakan karakter
bangsa.
Perbincangan mengenai Indonesia tidak akan lepas dari atmosfer
kebudayaan yang menyelimutinya. Budaya menjadi sebuah cerita indah dan panjang
tak membosankan, melebihi dari apa yang ada dalam cerita negeri dongeng. Beberapa
tahun ini, budaya menjadi barang langka untuk disaksikan di dunia nyata. Seolah
cerita panjang tentang kebudayaan menjadi riwayat akhir sebuah perjalanan
selama ini, menjelma negeri dongeng tersendiri—penuh keilusian untuk ditarik ke
dunia nyata. Sapaan modernitas merasupi bangsa Indonesia sehingga tak sadar
akan warna bajunya sendiri. Bila memang demikian, Indonesia bukan lagi sebuah
bangsa yang kaya akan budaya tapi bangsa yang kaya akan “cerita budaya”.
Berangkat dari
rangkaian Indonesia yang begitu kompleks, saya mencoba merangkai puzzle
kecil dari Indonesia yaitu kota Cirebon. Kota persinggahan lintas pantura ini,
mempunyai segudang kebudayaan—lengkap dengan keperihatinannya. Ada empat
keraton yang berada di tengah kota Cirebon, yang seharusnya kental dengan aura
keerotisan kebudayaan. Justru nuansa kebudayaan terasa mampat dan monoton. Tuan
rumah dari tari topeng, sintren, batik, tembang pantura dan naskah kuno kini terselip
ditumpukan bata gapura keraton. Kesulitan untuk meraba keberadaanya sekarang. Fakta
mencuat ke permukaan minggu ini di harian kabar Cirebon, maraknya penjualan
naskah kuno Cirebon ke luar negeri. Untuk merestorasi kertas naskah kuno
menjadi lembaran uang kartal. Perhatian pemerintah tak begitu melirik untuk
menjaga naskah kuno, malah lebih memilih jilidan proposal siluman dari
pengintaian media.
Permasalahan
ekonomi merupakan aspek urgen dalam penempatan posisi kebudayaan. Terlihat dari
rentetan peristiwa, tradisi ditumbalkan untuk sesajen pemberhalaan uang. Di sisi
lain, ada bentuk yang lebih halus namun menikam yaitu penjajahan budaya
dilakukan oleh kita sendiri tanpa disadari mengamini sebagai suatu keniscayaan.
Penyingkiran budaya dilakukan secara massal dengan merayakan pencitraan dalam
menciptakan masyarakat konsumtif. Dimana kebudayaan direduksi dari bentuk asli
ke bentuk imitasi, dari teks ke simbolik. Budaya tradisonal menghadapi tantangan
industri kebudayaan yang begitu besar.
Era modern yang
menjunjung tinggi teknologi dan ilmu pengetahuan untuk sebuah kemajuan. Pemuda yang
notabene sebagai pewaris tunggal dari kebudayaan, bertanggung jawab akan
keberlangsungan dan eksistensi budaya tersebut. Telah ternarik peran pemuda ke
dalam poros arus modernitas. Percepatan dan pemadatan rupa kehidupan, dilipat-lipat
sampai tidak bisa dilipat dan tidak memperlihatkan wujud asli dari apa yang
dilipat. Apa yang disebut sebagai deru mesin kapitalisme mutakhir yaitu
differensiasi. Pembedaan-pembedaan telah diproduksi secara massal untuk membangun
identitas dan gaya hidup. Konsumerisme dilepas secara bebas dengan melabelkan
yang other terhadap produknya.
Kini kemodernan merupakan
kiblat baru bagi masyarakat yang ingin mencicipi perubahan. Ada banyak
pembangunan hypermart, diskotik, café, hotel diamini sebagai gairah kemajuan
suatu daerah. Pembungkusan menarik yang ditawarkan dengan menonjolkan hal liyan
dari apa yang disuguhkan. Gaya hidup dan life style membangun bangunan
kokoh segitiga kasta. Dari sebuah sabda iklan oleh sang produser yang menjelma
Tuhan dan mewajibkan untuk mengimaninya. Pemuda lebih mengikuti apa yang
sekarang menjadi trend, dengan siklus pergantian dan tempo yang cepat, seolah
mewajibkan diri untuk segera update. Tak ada pendirian kukuh hanya untuk
mendapatkan apa yang dikatakan Heiddeger sebagai sublasi (pemberian pengakuan).
Model kehidupan yang mengalir mengikuti arus bukan mengalir pada alur.
Terlihat begitu kentara di kota Cirebon sebagai persinggahan supir pencinta
tembang pantura. Ada kelucuan orientasi pemuda yang mengkiblatkan pada titik
gerbang rujukan, yaitu Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Kalau boleh kita sebut
tiga kota tersebut sudah terbingkai sebagai: pragmatis, hedonis dan
tradisionalis. Ditarik dengan menelan mentah-mentah apa yang sedang menjadi trend
di kota tersebut. Berpengaruh besar dalam sosio-kultural kota Cirebon,
khususnya para pemuja yang kehilangan orientasi asal. Dengan dalih membentuk
Cirebon, tapi tak melihat bentuk yang sudah ada yang dimiliki Cirebon sendiri. Tidak
adanya pijakan dari tanah sendiri, akultarasi lintas budaya ini hanya akan
menciptakan formalism disoriented.
Mengambil bentuk dari pada etos dalam melihat budaya lain, akan
menimbulkan pengagung permukaan tanpa kedalaman. Terkecoh dengan kutang
perempuan dari isi yang kurang padat. Gaya hidup sudah seperti rukun dalam
menjalani kehidupan dari sabda iklan Tuhan. Ketika praktik kebudayaan secara
sosial dicumbu sebagai bagian dari gaya hidup. Menggiring pada bentuk paradoks
antara yang inti dan luar, filosofis dan praksis. Masuk dalam bingkai nihilism,
terperangkap kesubjektifan palsu melalui dunia citra.
Ada kerancuan
representasi dari sebuah apresiasi terhadap budaya. dengan dalih ingin
membudayakan apa yang dimiliki oleh kulturnya. Dengan memakai kaos bertuliskan
“I love Cirebon”, “I love batik” dan lainya, seolah-olah dengan memakai itu
sudah merepresentasikan masyarakat berbudaya. Gimana tidak keliru, cinta batik kok
pakai kaos? Kenapa tidak dengan memakai batiknya saja. mungkin ini yang
dinamakan sebuah simulasi oleh Jean Baudrillard, simbol mendahului dari apa
yang disimbolkan.
Berbicara bahasa
jawa Cirebon jarang ditemui di tempat-tempat umum. Ada keminderan yang mendera
di masyarakat. Jika berbicara bahasa jawa berkonotasi orang desa dan katro,
lebih suka memakai bahasa Indonesia ala Jakarta. Apalagi musik tarling
pantura, hampir tidak ada pemuda yang menyanyikannya. Lebih menggauli musik Mtv
dan boy band berbehel dan pamer BB. Tak ada café menggelar live musik pantura,
cuma ditemukan di acara nikahan atau pesta rakyat. Bahkan sampai di kampus
sekelas negeri pun tidak ada. katanya sih, mengumbar nafsu, padahal kita
tahu pejabat kampus pun nafsu akreditasi toh. Tersubordinasinya kultur
Cirebon menempatkan titik terbawah dari garis vertikal status sosial.
Membentuk sebuah
oposisi biner antara tradisional dan modern. Tradisional yang bersifat tua,
kuno, Statis, lambat dan modern yang bersifat muda, baru, dinamis, cepat. Sudah
menghegemoni dikalangan pemuda, tradisi terlihat sebagai wabah virus lepra yang
melumpuhkan dan lebih mengambil bentuk kemodernan sebagai vitamin perubahan. Anak
muda terjangkiti “kepikunan dini” atas dirinya sendiri yaitu tradisi asal sebagai
identitas otentik.
Perlu adanya
kesadaraan dan pengakuan bahwa kebudayaan kita sekarang sedang kebingungan di
persimpangan jalan. Harus sigap dan cepat menentukan arah kemana akan dibawanya
budaya ini. Tindakan perubahan dengan wacana yang mengawang-awang di
langit harus ditarik ke bumi untuk tindakan yang konkret. Mendirikan dan
menjalankan pusat-pusat kebudayaan di daerah perlu diadakan untuk mengkat
kebudayaan lokal. Indonesia tidaklah berarti tanpa adanya budaya yang berada di
daerah-daerah. Menjadi Indonesia bukanlah memuja Indonesia. Namun, bertindak
mengangkat daerah untuk dipersembahkan kepada Indonesia.
Strategi pemerintah
pun penting dalam menyusun strategi kebudayaan untuk memunculkan kearifan lokal
yang masih terselip dalam taradisi dan untuk meminimalisir penyelewengan budaya
seperti penjualan naskah kuno. Mengubah karakter masyarakat yang konsumtif
menjadi produktif, peniru menjadi pencipta, pengikut menjadi kreator. Perlu
ditanamkan secara dini dan aplikatif di lingkungan sekolah. Agar pembagunan
karakter yang diharapkan bisa terwujud ketika tulisan ini lapuk.
Kebudayaan tradisional
tidaklah asketis dan konservatif terhadap dunia modern dan tidak juga
mendistorsi kebaruan secara binal. Namun menempatkan pada satu tatanan yang menjadi
akar untuk menumbuhkan karya baru sehingga dapat berdiri tegak dari terpaan
angin kumbang. Turut ambil aktif dalam tindakan penciptaan dan tindakan
kreatif, bukan menjadi mayoritas yang diam dikuasi oleh segelintir elite.
Yasraf Amir Piliang mengatakan bahwa revitalisasi kebudayaan bukan
sekedar menggali puing-puing tradisi untuk diagung-agungkan semata, melainkan
kearifan lokal yang tersimpan dalam warisan budaya Indonesia digunakan sebagai
pencerahan dalam mengubah karakter masyarakat konsumtif. Menjadi Indonesia yang
berbudaya tidaklah mustahil dan bukan angan-angan yang terlalu muluk. Karena
memang bangsa ini sudah mempunyai riwayat sejarah budaya nyata. Kita tinggal
meneruskan dan mengolahnya dalam mengahadapi budaya modern. Pada umur Indonesia
ke 100 tahun akan menjadi kiblat dari cerminan dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar