Halaman

KOTA CIREBON

Jumat, 04 Januari 2013

Cirebon


Kota tidak untuk diketahui: Cirebon
15 Desember 2012
1.      Prolog
Kota Cirebon masih menjadi hal yang asing untuk saya kenali secara dekat. Lembar kertas kosong yang ada dihadapan saya terlihat begitu bersih tanpa ada goresan pena sedikitpun. Karena saya bingung akan menuliskan apa tentang kota Cirebon. Tak ada ide dan rekaman jelas tentang kota ini. Padahal kota ini merupakan tanah kelahiran dan dibesarkannya saya hingga saat ini, tidak menjamin keakraban saya dengan kota Cirebon. Sejenak saya merenung dengan tatapan kosong ke lembar kertas. Kenapa kota ini sulit saya tuliskan dan diceritakan. Apakah sejarah kota Cirebon tak pernah dikenalkan ke masyarakat? Ataukah kebodahan saya yang tak pernah mempelajari sejarah dan kebudayaan kota ini? Atau jangan-jangan kota ini memang tak layak untuk dituliskan dan diceritakan? Terhentak dengan keras membentur nalar untuk mencari jawaban yang sebelumnya tidak pernah saya pertanyakan.
Untuk memahami atau sekedar mengetahui kota secara holistik merupakan perjalanan panjang bagi saya atau mungkin masyarakat kebanyakan untuk menuju masyarakat yang berbudaya. Entitas yang tak akan terpisahkan dari akar sejarah kota yang merekam perjalanan sejarah terbentuknya sebuah kota. Perlu kiranya membahas budaya untuk mengetahui secara utuh apa dan kenapa kota itu ada. Sedangkan saya tak begitu mengerti yang dimaksud dengan budaya yang ada di kota Cirebon. Yang saya tahu hanyalah sisa puing-puing dari kejayaan masa lampau. Itupun hanya bentuk bangunannya saja, tak mengerti asal-usulnya. Sehingga rasa hormat dan pengagungan terhadap budaya hanyalah instrumental saja. Setidaknya, agar dapat dikatakan sebagai bagian orang yang cinta budaya dan menjaga kearifan lokal. Padahal makna dan sejarah akan pengetahuan kebudayaan sangat buta dan bodoh di otak ini.
Literatur yang menerangkan kota Cirebon, tak mudah untuk ditemui di toko-toko buku bahkan di mbah google sekalipun. Cerita angin ilir yang berhembus dari sana dan sini menjadi rujukan referensi sementara saja. Setidaknya mengobati kerinduan cerita masa lampau yang begitu jaya, lumayan untuk meneguhkan percaya diri masyarakat. Ibarat ganja untuk menenangkan masyarakat dari kegagapan budayanya sendiri.
2.      Budaya Cirebon
Untuk dapat mengelilingi kota Cirebon tak perlu merogoh kantong dalam-dalam, cukup dengan mengisi bensin kendaraan sepeda motor anda dua liter saja. Anda dapat menemui beraneka ragam isi kota ini. Baik yang terlihat seperti di iklan pariwisata maupun yang tidak. Salah satunya bangunan monumen sejarah kemerdekaan yang sudah mulai terlupakan adalah tugu proklamasi. Berada di tengah-tengah kota sebelah alun-alun, monument ini tak begitu dihiraukan oleh masyarakat. Berdiri di samping perempatan jalan, seolah menjadi bagian dari pengaturan rambu lalu lintas dan patung hiasan taman yang tak lagi terurus. Tugu diletakan pada tanggal 17-8-1945 djam 10.56 oleh toean presiden pertama. Kemerdekaan sangat dieluh-eluhkan dan cita-cita bersama masyarakat pada saat itu. Jika saja monument tugu dirawat dengan baik dan pencahayaan lampu yang baik bukan tidak mungkin akan menjadi penarik perhatian. Dan dengan itu pula akan menjadi media untuk masyarakat memberitahu bahwa monumen yang catnya sudah mengelupas merupakan bagian dari sejarah kemerdekaan Indonesia di kota Cirebon.
Bertempat di pulau Jawa yang kental akan keraton-keraton raja Jawa, Cirebon mempunyai empat keraton yang berdekatan dalam satu kota yang sama. Membuktikan bahwa kota ini menjadi pusat pemerintahan  dan mengukuhkan peryataan wali songo yang menyebut sebagai puser bumi. Terdapat banyak benda pusaka tersimpan dimasing-masing keraton sebagai saksi bisu perjalanan keraton masa lampau yang penuh dengan perjuangan. Tumpukan manuskrip-manuskrip tersimpan secara rapih di dalam lemari tua. Waluapun tidak semua orang dapat melihat langsung, apalagi membuka lembaran-lembaran manuskrip. Karena usia yang sudah tua dan kertas yang mulai lapuk. Maka sangat dijaga keutuhanya untuk tetap dapat diwariskan.
Upacara-upacara adat keratonan masih menjadi daya pikat masyarakat untuk mengunjungi keraton dan menyaksikan prosesi ritual adat. Salah satu dari acara yang ada setiap tahunya adalah maulid nabi. Dimana adanya pasar dadakan sebulan penuh sebelum acara ritual adat dijalankan. Ada hal menarik dari pasar dadakan ini, rata-rata pedagang yang berjualan bukanlah asli orang Cirebon melainkan dari luar daerah dan kebanyakan dari pulau Sumatera. Tak kalah dengan mall, di pasar ini, menjajajkan berbagai perlengkapan kebutuhan hidup. Dari pakaian yang model tradisional sampai model korea dengan boy dan girl band pun ada, makanan martabak, tahu dan bakso masih menjadi favorit masyarakat sebagai salah satu tujuan untuk berkunjung kepasar dadakan.
Prosesi metu jimat (mengeluarkan pusaka) dari lemari keraton yang sudah berdebu dimandikan dengan ritual yang sangat sakral. Acara inti dari sebelumnya dibuka dengan pasar dadakan satu bulan penuh ditutup dengan ritual sakral yang disebut dengan malam pelal. Ada hal lainya lagi yang cukup menarik, yaitu babad Cirebon (pembukaan lahan). Suatu pagelaran dibacakanya cerita tentang babad Cirebon dalam upaya mensosialisasikan sejarah babad Cirebon dalam bentuk acara yang lebih elegan dan tidak membosankan. Bertempat di dalam keraton dengan suasana yang khas keraton menghipnotis kita hidup dimasa lampau.
Pagelaran tari topeng menjadi entitas yang tak terpisahkan dari bagian keraton.  Tidak hanya di keraton yang ketika membuka acara-acara seremonial dengan tari topeng. Kini beberapa kegiatan lembaga negara dan masyarakat sering mnggunakan tari topeng sebagai pembuka acara dengan tari topeng. Sanggar-sanggar tari terdapat disetiap keraton untuk pusat pelatihan generasi muda. Tari dengan meliuk-liuknya tubuh seorang perempuan, penari mengikuti irama gendang, gamelan dan kenting. Berdramaturgi dengan sebuah topeng yang dikenakanya.
Suatu waktu pernah ada pegelaran yang lumayan besar dan sangat jarang ada di kota Cirebon. Bertempat di situs gua sunyaragi pagelaran kolosal Putri Ong Tien menghadirkan ragam budaya Cirebon dan negeri tirai bambu. Menunjukan kota ini ramah akan kebudayaan luar dan menjungjung toleransi, sebagaimana dengan wajah asas Bhineka Tunggal Ika. Gua sunyaragi merupakan situs peninggalan sejarah di dalam kota tepatnya di pinggir jalan pantura. Material gua yang terbuat dari batu karang dan terdapat patung-patung menjadi daya tarik pengunjung karena berbeda dengan situs gua-gua lainya. Gua yang dulunya digunakan sebagai tempat bertapa para prajurit keratonan, terlihat seram dan bulu kuduk berdiri kala senja mulai datang. Banyaknya rumput ilalang yang tumbuh secara liar akibat kurang perawatan dan pencahayaan disekitar gua tidak ada. Menjadikan situs gua ini menjadi mandeg dan tak ada pengunjung dimalam hari. Suatu waktu saya pernah bertanya kepada petugas gua Sunyaragi “ mengapa tidak ada pencahayaan yang baik disaat malam hari? Agar wisata malam juga berjalan tak kalah dengan candi Prambanan?” Petugas gua malah menjawab “nanti nilai mistis dari gua ini hilang mas !” peryataan yang   sangat menggelitik, apakah pencahayaan mepengaruhi nilai kemistisan dari gua tersebut yang sudah menjadi tujuan wisata di kota ini.
Jika kita mengunjungi sebuah kota, tentulah kita akan mencari makanan  khas daerah tersebut untuk mengganjal perut yang sudah banyak terisi angin. Di Cirebon wisata kuliner merupakan tempatnya, ada berbagai macam jenis makanan yang akan menggoncang perut ini untuk cepat lapar. Ada nasi jamblang, empal gentong dan pedesan entog sebagai penyambut anda yang berkunjung di kota Cirebon. Nasi jamblang merupakan segumpal nasi yang dibungkus dengan daun jati, menambah wangi aroma nasi dan nafsu makan. Kita dapat mengambil lima bungkus nasi bungkus atau lebih karena porsi nasi tidak terlalu banyak sedangkan dihadapkan berbagai macam lauk lebih dari 25 jenis lauk yang bebas kita pilih untuk memanjakan perut. Jika ingin makanan berkuah, ada empal gentong yang dimasak menggunakan gentong dan tungku kayu. Kuah kuning yang berisi irisan daging dan kulit sapi dengan ditaburi sambal kering, akan mengucurkan keringat dari badan anda dan menghilangkan kantuk untuk melanjutkan perjalanan.
Wisata religi pun ada di kota ini. Satu-satunya sunan diantara wali songo yang berada di Jawa barat berada di Cirebon yaitu kanjeng sunan Gunung Jati. Menjadi tujuan kebanyakan masyarakat muslim di negeri ini dan non muslim. Wisata religi tidak hanya diperuntukan untuk kalangan muslim saja, orang-orang Tiong Hoa juga banyak yang berziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Istri dari Sunan Gunung Jati berasal dari negeri tirai bambu sana, tak aneh jika ada tempat untuk persembayangan membakar dupa di dalam makam. Sungguh sangat plural kota ini.
Sebelum beranjak kaki dari kota Cirebon, ada buah oleh-oleh yang dapat dibawa ke rumah. Buah tangan berupa batik trusmi dan kerajinan topeng Cirebon. Batik Trusmi yang mempunyai motif-motif elegan salah satunya dalah motif mega mendung yang khas dengan kota Cirebon. Tidak hanya pertokoan batik saja yang anda lihat. Namun dapat menjumpai pembuatan motif batik secara langsung. Kampung Trusmi yang mayoritas masyarakatnya pengrajin batik ini, disebut sebagai kampung batik. Anda dapat mencoba membuat batik secara langsung dengan penduduk yang ramah tamah di sini. Sepanjang jalan anda keluar dari kampung ini untuk kembali ke kota anda, ada aroma cairan malam menemani sampai keluar kampung sebagai terapi menenangkan dari uang yang sudah kempis setelah berkeliling kota Cirebon.
3.      Paradoks budaya
Berbarengan dengan banyaknya warisan budaya yang ada dikota Cirebon. Masuk dengan deras model-model modernitas agar kota ini terangkat martabatnya di tengah-tengah globalisasi. Pembangunanisme digencarkan secara ngotot dengan pewacanaan megapolitan. Bagi para corporate menjadi santapan empuk untuk bersinggah dan menelurkan anak-anak perusahaan. Karena kontruksi masyarakat yang sudah mulai konsumtif. Hotel-hotel bintang dijajahkan di pinggir jalan strategis kota. Mall-mall menjadi ka’bah trend baru yang harus diikuti, menyingkirkan pasar tradisional. Kafe-kafe mewah bertumbuhan dengan menawarkan status sosial dari pada kenikmatan menunya.
Entah hal ini harus diamini sebagai sebuah keniscayaan ataukah dijewantahkan dari paradoksnya identitas masyarakat. Bungkusan modernitas memang sangat menarik dan menjanjikan akan pragmatisme materi, jauh dari kebudayaan tradisional yang tidak menjanjikan apa-apa. Tari topeng tak lagi menarik bahkan diacuhkan yang lebih melirik gangnam style dan tari striptis yang mengairahkan birahi. Orang-orang lebih memilih makanan berkeju, mayones dan berPPN dari pada nasi jamblang yang bergaram. Agar image orang modern tetap terjaga di mata orang lain. Kini masyarakat sudah sadar akan cinta terhadap batik setelah PBB menetapkannya sebagai warisan bangsa Indonesia. Karena sangat cintanya terhadap batik, kampanye dengan memakai kaos “I LOVE BATIK” digandrungi masyarakat. Melupakan kain batiknya sendiri yang hanya digunakan pada saat kondangan dan khitanan saja.
Apakah ini kemajuan dengan alasan modernitas yang membersihkan barang-barang lapuk dimakan zaman. Sesuatu yang lama itu harus cepat dibuang dan diganti dengan yang baru. Agar kita tidak ketinggalan dan mengikuti perubahan zaman. Dipaksa menjadi pengikut dan diseret-seret akan perubahan yang sebenarnya tidak mengerti perubahan yang diubah oleh siapa dan untuk apa. Taklid buta yang sedang diajarkan di kota saya, tidak diajarkan sebagai seorang kreator yang membuat perubahan. Kalau memang sudah begini, wisata budaya hanyalah puing-puing sampah yang dirawat dan menarik untuk objek pengambilan fotografer.
Begitu kayanya kota ini akan warisan budaya. Jika kota lain hanya punya satu keraton, kota Cirebon punya empat keraton yang saling berdampingan. Punya juga tugu yang kokoh dengan cat yang mulai memudar sebagai saksi bisu kemerdekaan yang eluh-eluhkan di kota ini. Tari topeng dengan 5 tokoh khas menjadi penyambut kegemulaian liak-liuk penari yang begitu menghayati akan ketransedenan. Situs gua sunyaragi yang masih gagah berdiri dengan kuat dengan kegarangan batu karangnya dari kurangnya perhatian. Kesakralan akan tokoh Sunan Gunung jati menjadi ikon religi dari wajah kota ini. Motif batik yang penuh dengan nilai filosofi masih tetap dituliskan dengan canting secara telaten dengan warna yang sedikit memudar. Makanan khas masih tetap di masak dan dijajakan  walaupun berhadapan dengan restoran-restoran mewah dengan gaya luar negeri.

4.      Epilog
Untuk memahami budaya memang tidak mudah dari jejak yang ditinggalkan hanya sisa-sisa puing tak utuh. Hanya dapat menerka-nerka asal-usul sejarahnya. Menelantarkan budaya tak utuh bukanlah sikap yang arif, bagaimana cara kita untuk menjaga dan merawat sisa yang ada agar tidak menjadi penggalan cerita sejarah. Sapaan modernitas di tengah masyarakat sangatlah menggoda seperti perempuan berpakaian sexy nan montok melambai memanggil kita untuk mendekat dan menyuruh melepaskan baju kita. Memang tidak ada yang salah untuk memilih hal modernitas karena kita tahu kebebasan untuk memilih adalah hak individu. Mempersilahkan individu untuk memilih budaya modern yang menggilas budaya tradisional atau merawat budaya tradisional yang gagah dalam menatap modernitas.
Pertanyaan-pertanyaan yang saya cari jawabanya untuk menuliskan diselembar kertas mengenai kota Cirebon. Budaya bukanlah hasil dari manusia namun proses yang terus menerus tanpa henti. Saya mulai menuliskan apa yang ditangkap mengenai kota ini secara bebas tanpa intervensi dan dominasi dari manapun. Agar saya bercerita dengan jujur apa yang ada dan sedang terjadi di Cirebon untuk dikabarkan keluar sana. Karya merupakan proses dari budaya yang harus dilakukan untuk setidaknya penyambung lidah dimasa akan datang dari manuskrip yang sudah hilang dari lemari-lemari di jual keluar negeri. Kota Cirebon tak perlu diketahui secara utuh dan lengkap karena menguras energi dari mandegnya karya. Karena ketika tahu kita akan nyaman atau malah kecewa dengan kota ini. Sebaliknya kita menilik sebentar dan berkarya untuk membuat sejarah baru yang berkisambungan. Kertas kosong bersih pun harus digoreskan dengan pena dari tangan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar