Halaman

KOTA CIREBON

Sabtu, 02 Juli 2011

Merobek jubah menjadi kemeja batik


Merobek jubah menjadi kemeja batik
Muhamad isomuddin, 24/05/2011
Masyarakat Indonesia merupakan bangsa yang multikultural akan sebuah suku, ras, bahasa dan budaya, menjadikanya negara mempunyai keunikan dari berbagai  golongannya. Hal ini pula, menjadikan bangsa yang tak pernah kekurangan akan budaya. Penciptaan budaya sendiri melibatkan akal yang menghasilkan pemikiran manusia akan sebuah kebutuhan dan keinginan pada manusia itu sendiri, inilah yang membedakan budaya dan terciptanya banyak budaya itu sendiri. Masuknya agama islam ke Indonesia yang merupakan barang import dari bangsa arab, masuk melalui para pedagang dari bangsa Persia, India, dan Arab. Menyebarkan agama islam terhadap masyarakat Indonesia yang sebelumnya sudah memegang agama hindu dan budha khususnya di pulau jawa dan budaya yang sudah ada sebelum islam itu ada. Peran agama hindu-budha sangat berpengaruh pada budaya masyarakat jawa akan mistik hindu-budha. Islam yang bisa dikatakan pada masa itu pendatang baru akan ajaranya pada masyarakat jawa, menuntut para penyebar agama islam berfikir agar ajaran islam dapat diterima dikalangan masyarakat jawa.
Pada masa wali songo misalnya, akulturasi antara agama islam dan budaya jawa dilakukan oleh para wali. Media yang di gunakan oleh para wali pada saat itu menggunakan budaya jawa, contohnya dalam penyebaran menngunakan wayang, penggunaan bahasa sebagai pemahaman yang mudah pada masyarakat jawa seperti sunan kalijaga dengan tembang lir-ilirnya, ritual-ritual hindu ( tahlil ) dikemas dengan ajaran islam itu sendiri, penggunaan simbol dalam rumah ibadah masjid demak yang mengadopsi budaya dari hindu pada menara yang jumlahnya sembilan di ubah menjadi tiga atau dalam islam mempunyai arti iman, islam dan ihsan. Penggunaan media budaya dalam memasukan agama kedalam masyarakat, merupakan senjata ampuh dalam hasil penyebaranya. Karena masyarakat dapat mudah menghayati dan memahami akan ajaran islam itu sendiri. Wali tidak menghapuskan budaya pada masyarakat jawa. Islam mampu menghubungkan antara budaya lokal, melayaninya, dan kemudian menumbuhkan universalitas pandangan baru yang tidak tercerabut dari akar kesejarahanya.
Paparan diatas, sedikit  menengok sejarah agama yang berakulturasi dalam budaya lokal. Pada saat sekarang, masyakat masih dibingungkan akan nilai islam normatif-historis terhadap kehidupan muslim bedasarkan visualisasi simbolik dari islam yang ternyata hanya budaya masyarakat arab sendiri. Proses seperti ini melahirkan Arabisasi total dimana penyeragaman manifestasi kehidupan melalui bahasa dan tradisi arab yang diklaim bagian dari islam normatif. Hal ini membahayakan akan tercabutnya budaya lokal, bahkan menghapuskan budaya lokal dari kebutuhan nyata masyarakat atas nama agama islam yang berakibat adanya pengharaman didalamnya. Proses Arabisasi ini dalam krisis identitas yang dialami oleh sebagian muslim sekarang. Hal itu berangkat dari suatu ketercabutan sebagian umat atas akar kebudayaan yang melingkupinya. Artinya, sebagian muslim yang memaksakan islam universal ala arab mengalami ketidak mampuan pambacaan atas identitasnya, ketika dihadapkan pada realitas kebudayaan masyarakat yang teryata tidak sesuai dengan ideal type islam. Dari sinilah munculah kegairahan untuk mempersoalkan manifestasi simbolik dari islam, sehingga identitas agama  harus ditampilkan secara visual.
Ketegangan agama dan budaya kerap kali terjadi didalamnya. Ketika kita hanya memahami normatif islam saja merupakan penyempitan islam itu sendiri. Luasnya ajaran islam yang meliputi seluruh bidang kehidupan dan kebutuhan umat manusia menjadikan pembidangan aspek ajaran islam  sebagai kajian. Dalam islam sendiri mengenal akidah, syariah dan muamalah atau pembidangan intinya  di dalam kitab suci al-Quran dan hadist. Namun pembidangan diatas bukanlah tujuan akhir tentang islam, melainkan sekedar kategorisasi untuk mempermudah pemahaman lebih lanjut dan lebih mendalam tentang apa yang sebenarnya diajarkan oleh islam. Untuk melerai ketegangan antara budaya dan islam, haruslah kita memahami keilmuan islam seperti ushul fiqih dan qa’idul fiqh. Mempergunakan sumber tekstual dan konsesus.
Hubungan antara agama dan budaya, keduanya sama-sama melekat pada diri seorang beragama dan didalamnya sama-sama terdapat keterlibatan akal fikiran manusia. Dari aspek keyakinan maupun aspek ibadah formal, praktik agama akan selalu bersamaan bahkan berinteraksi dengan budaya. Kebudayaan sangat berperan penting dalam terbentuknya sebuah praktik keagamaan bagi seseorang,  akal senantiasa terlibat dalam peribadatan atau ritual. Untuk menunjang itu sarana dan prasarana selalu dibutuhkan setiap orang bergama di dalam menjalankan ibadahnya. Faktor budaya terlihat sangat mempengaruhi ibadah keagamaan yang berakibat juga pada berbedanya peribadatan yang dilakukan dalam satu agama yang sama karena tidak lepasnya faktor kebudayaan sehari-hari. Kebudayaan merupakan alat penunjang utama terselenggaranya sebuah praktik keagamaan yang dihayati atau sempurna.
Interaksi agama dab budaya tidak terdapat dalam ajaran agama murni, agama asli dari tuhan murni merupakan hal yang bersih dari budaya. Akan tetapi setelah dianut manusia, peran akal ( budaya )masuk sebagai alat utama untuk beragama sebaik-baiknya. Hal yang perlu diingat kembali, bahwa manusia mempunyai hak otonomi dalam kebebasan dirinya dalam hal apapun khusunya dalam penggunaan akal. Buah pemikiran yang dihasilkan pun akan berbeda-beda karena kebutuhan  dan keinginan pada manusia itu sendiri. Masyarakat Indonesia mempunyai kebudayaan yang berbeda pada tiap sukunya. Mereka pun mengahayati sebuah agama dengan mengakulturaasikannya dengan budaya yang ada. Kita harus tahu antara sistem simbol dan sistem nilai. Kalau agama merupakan simbol dari tata nilai ketuhanan, maka kebudayaan merupakan simbol dari tata nilai yang disepakati bersama untuk dapat hhidup selaras dengan linkunganya.  Kita maasyarakat Indonesia mempunyai budaya sendiri, yang harus kita melestarikan memahaminya. Jangan terpengaruh dengan budaya yang dklaim bagian dari islam normatif.
Mohon maaf sebelumnya dan terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar