Halaman

KOTA CIREBON

Sabtu, 02 Juli 2011

Memunafikan diri


Memunafikan diri  untuk ingin lari dari duduk  termenung
Izomudden 01 april 2011
Kehidupan mahasiswa  yang  memang beraada pada ruang lingkup intelektual   yang sangat struktural dan penuh dengan pembelajaran akademiknya. Ditambah perkuliahan selalu memberikan setumpuk dengan tugas-tugasnya. Menjadikan mahasiswa seringkali sulit untuk mengekspresikan apa yang ingin dikembangkannya, bukan karena tidak ada niat. Waktu yang disita dalam perkuliahan sangatlah mengunci aktivitas diluar akademik. Hal ini pula yang menjadikan mahasiswa lebih cenderung malas dalam perkulihan.
Keadaan yang seperti inilah yang menjadikan tantangan mahasiswa untuk berdiri sejajar namun berbeda dengan barisan. Sifat kreatif haruslah tertanam kuat dalam diri dengan diiringin keberanian dan percaya diri. Hal itu yang diperlukan sebagai manusia yang menjadi subyek dan obyek dalam perubahan. Mahasiswa yang dituntut sebagai agen perubahan disini bukan lagi menjadi hal yang mudah dalam menjalani tuntutan. Mahasiswa haruslah menjadi sample modeling bagi masyarakat sekitar. Kita harus meniru sebuah pembelajaran sosial yang terlebih dahulu sudah ada, lalu menerapkanya kedalam kehidupan kita sendiri khususnya tentunya dengan adanya kolaborasi dengan unsur lain dan diaplikasikan pada kehidupan sekitar. Baru kita akan ditiru oleh orang yang lain. Disinilah fungsi sebenarnya dari mahasiswa yang ikut ambil andil dari perubahan.
Mahasiswa yang dihadapkan dalam dua permasalahan diatas, antara perkuliahan akademik dan pembelajaran sosial haruslah berjalan secara seimbang. Perkuliahan akademik sangatlah mudah dalam menjalaninya karena ada sebuah wadah formil yang mengarahkanya dengan struktural. Namun, pembelajaran sosial inilah yang masih sedikit ada yang diperhatikan dalam ruang lingkup kota Cirebon. Mahasiswa di Cirebon sebenarnya banyak yang mempunyai niat da potensi dalam menuangkan kekretifitasanya, niat dan potensi  tersebut masih kurang diiringi dengan sebuah tindakan nyata yang berkelanjutan. Hal ini terjadi karena sikap pesimis yang kerap  kali terjadi pada awal ingin melakukan sebuah tindakan dengan melihat masa lalu. Pada akhirnya niatan dan potensi itu hanya menjadi benda fosil yang tidak lebih menjadi bangkai. Pelampiasan dari rasa kekecewaan tidak adanya sebuah wadah ataupun sarana yang tidak mendukung sebuah niatan dan potensi yang diinginkanya, sering kita lakukan adalah menyalahkan sebuah kehidupan yang ada.  Contohnya di Cirebon, mahasiswa pribumi kerap kali lebih membanggakan kehidupan di Jogja dari pada di Cirebon sendiri. Karena Joga sebuah kota impian bagi semua kalangan yang ingin mengekspresikan apapun pasti tersalurkan. Hal ini yang akhirnya kita selalu menonton dari kehidupan jogja yang setia. Menyalahkan kota Cirebon sendiri karen tidak seperti jogja, kalau kita tanya pada diri kita kenapa kita tidak bisa seperti jogaja? Apa yang salah? Coba hal itu kita jawab pada diri kita sendiri. Kita terlalu banyak mengkonsumsi sebuah produk, tanpa pernah menjadi pembuat produk.
Permasalahan ini haruslah kita pecahkan bersama, kita sudah tau mana yang salah dan harus dibenahi. Tidak cukup dengan niatan dan ucapan yang tidak sistematis dan berkelanjutan. Kita boleh menengok dari sebuah kota Jogja yang sudah menjadi kota impian bagi yang ingin berkreatifitas. Namun jangan ssampai menjadikan kita memandang lama yang mengakibatkankita menjadi penonton, bukan menjadi pelaku perubahan. Sedang kita sebagi mahasiswa diwajibkan untuk menjadi pelaku. Mungkin ini sekilas artikel yang mengisahkan secara singkat jangan munafik kalau ingin maju kalau yidak mau bertindak, tentunya masih acak-acakan, tapi tidak mengurangi rasa percaya diri saya untuk selalu membenahi dan belajar. Terimaksih kepada teman-teman yang mau membaca artikel yang sedehana ini dan membingbing saya dalam diskusi. 
Universitas kehidupan, terhambat karena adanya dosenyang mempunyai sebuah kepentingan didalam sebuah background organ. Pengendalian sistem sangatlah menjerat dalam kekretivitas, daya kritis dimatikan.
Pemikiran progeres dikalahkan oleh pragmatisme, pengagungguan kemapanan pada status masih menjadi titik nyaman
Bagaimana dalam pendidikan yang maju adanya “ayam kampus”
-          Mari kita sering berinteraksi sosial
-          Sering bersosilisasi
-          Mencari sebuah pemahaman yang sama untuk menjadsikanya sebuah konsesus
-          Ciptakan budaya kritis didalam sebuah pemahaman yang ada
-          Mempelajari aspek ruang sosial

Tidak ada komentar:

Posting Komentar