Halaman

KOTA CIREBON

Minggu, 03 Juli 2011

Menyikapi bencana lewat agama


Menyikapi bencana lewat agama
''stop celoteh agamawan''
Oleh: royyan dan isomuddin
Di tengah perjalanan bangsa ini banyak sekali bencana yang menyelimuti negri pertiwi ini. Waktu terus mengalir dan musibah pun terus berdatangan itulah yang sedang di landa di negara kita. Bukan persoalan yang harus di persoalkan tapi sebuah kenikmatan. Karena, keterlukaan adalah tanda adanya kehidupan.
Melihat para korban yang berada pada pengungsian yang sangat berkesederhanaan pada ketiadaan. Mereka sangat kebingungan untuk menjalani kehidupan setelah bencana. Banyak orang yang sok beriman dan malas untuk berfikir secara membabi buta memahami sesuatu yang religius tanpa adanya otonomi yang jelas. Misalnya dalam wawancara keagamaan ada yan menilai dan mengecap musibah yan terjadi adalah sebuah adzab dari tuhan. Sungguh ironis memang, di kala para korban sedang menderita, dan sedih mendalam akan bencana yang menimpanya, pendapat seperti di tunjukan pada korban. pendapat yang tidak penting itu menambah beban mereka. Sudut pandang yang hanya dilihat secar ekslusif bukan inklusif ini. Jika pendapat tentang itu semua adalah adzab dari tuhan tetap di pertahankan. Akan membahayakan pada manusia, yang akan menggambarkan tuhan yang kejam dan suka menghukum manusia sedangkan tuhan sendiri maha penyayang dan pengasih.
Kalau tuhan di gambarkan tukang pukul yang kejam. Maka dengan mudah orang-orang yang bertuhan juga akan mudah menghalalkan kekerasan sebagai solusi pemecahan masalah dalam agama.
Para korban bencana di sana membutuhkan pertolongan yang tulus dari orang yang menaruh simpati antar sesama. Bukah celotehan agama yang menamah beban mereka. Melihat pada kejadian dulu di Aceh yang terken tsunami. Banyak sekali rang yang bersimpati dalam pembangunan kota Aceh menjadi pulih kembali seperti awal. Namun dikala ada donatur yang begitu besar menyumbangkan bantuan dan bentuk relawan dari luar negri atau non islam. Ada golonga yang mengecapnya sebagai upaya pengkristenisasi pada masyarakat Aceh. Apa yang salah disni membantu dengan melihat lebel agama yang berbeda?. Jika perbedaan agama hanya menjadi kecemburuan dan pertentangan antara golongan yang egois kepada agamaya, korban bencan hanya menjadi obyek permasalahan yang menimbulka pertentangan pada agama. Jika seerti ini korban bencan telah dilantarkan oleh agama.
Apa dengan kejadian seperti ini agama menjadi solusi dalam bencana? Jawabanya ada pada anda. Seharusnya kita sadar atas warga negara Indonesia yang mempunyai dasar bhineka tunggal ika. Menjungjung tinggi toleran pada perbedaan untuk berjuang. Hal ini telah di ingatkan oleh obama kemarin di universitas Indonesia.
Marilah kita tawadhu dalam melihat realita yang terjadi pada negri kita ini dan mencari solusinya bukan untuk menyalahkan pemerintah atau menerapkan hukum-hukum (syariah) yang tidak mansiawi, tidak sesuai dengan konteks sosial dan kondisi tempat. Marilah kita salahkan diri kita sendiri, kontribusi apa yang telah kita berikan untuk korban di luar sana atau menyalahkan obama yang tidak tahu apa-apa.
Diskusi malam selasa di toko samudra buku
Samudra_buku@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar