Qurban dengan korban
kami dari anak bangsa turut betduka cita sedalam-dalamnya kepada korban bencana yang telah melanda jogaj, mentawai, wasior. Kami merasakan kesedihan seluruh keluarga korban.
Bangsaku sekarang sedang menalami sebuah ujian yang berat menimpa saudara-saudaraku
di mentawai yang terkena tsunami, di wasior yang yang mengalami banjir bandang, di jogja sedang di ganggu tidurnya karena letusan merapi. Semua kejadian yang menimpa di bumi pertiwi ini sepeti tiada akhirnya.namun, kami yakin bangsaku ini tidakakan gentar menghadapi semua ujiandari tuhan, bukan adzab. Saudarku di sana masih mempunyai morl yang tinggi terhadap alam dan tuhannya.
Menyikapi bencana ini janganlah kita pada akhirnya terjadinya konflik tentang penyebarab agama yang perah terjadi di aceh. Mungkin karena banyak pihak yang bukan muslim yang lebih memberikan bantuan dan keeduliannya terhadap pembangunan kota aceh seperti semula. Malah, di cap sebagai kristenisasi. Apakah yang salah dalam hal ini?
Kami tidak setuju dalam pembantuan yang seperti itu di cap sebagai kritenisasi, karena hal tersebut mencakup hal yang sangat individu dalam hal berkeyakinan. Dalam hal memberi pertolongan janganlah egkau menyalahkan lebel agama yang membantu paa oran-prang yang terkena musibah, jika kamu sendiri tidak sama sekali memberikan kontribusi dalam penanganan usibah tersebut baik dalam hal mater maupun immateri.
Pada bulan ini mugkin berdekatan dengan hari raya idul adha yang dirayakan oleh umat muslim.Kaum berpunya mempersembahkan korban sembelihan untuk dibagi-bagikan sebagai tanda syukur akan nikmat-Nya, kaum miskin menerima daging qurban dengan bahagia disertai doa syukur akan nikmat-Nya, dan terutama anak-anak yang riang gembira melantun takbir sambil mengibaskan kipas membakar sate daging qurban; itulah suasana masyarakat yang tergambar secara kasat mata. Namun, pada kondisi yang terjadi dalam bangsa, di daerah yang terkena musibah mungkin tidak memikirkan hal yang seprti itu. Para korban disan memikirkan apa yang harus di angun dari semua keterbatasan yang ada.
Mungkin untuk kalang yang sudah berqurban berkali-kali- pejabat kedaerahan atau pemerintah- lebih baik dialihkan pada bentuk sumbangan dana yang akan lebih efektif di salurkan pada lembaga-lembaga yang sudah di percaya dala hal penyaluranya. Sehingga apa yang tersirat dalam quran sendiri yang mengandung arti sikaya dan simiskin itu merasakan akan lebih berguna.
Karena, Qurban, bukan amalan seremonial atau pemenuh kewajiban semata tanpa pesan sosial dan moral mulia di dalamnya!
Pada hal yang seprti ini bukannya dalam pembantuan melebelkan nama agama. Namun, mengarah keritualan pada sebuah agama yang lebih bermanfaat bagi yang benar-benar sedang memrlukan. Dan tidaka ada istilah kristenisasi,islamisasi,hindunisasi pada konteks pemberian bantuan yang ada hanya pengkondisinasi bantuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar