PSK;Merenggangkan borgol moral
Oleh : muhamad isomuddin
Manusia dituntut untuk mempertahankan kehidupanya untuk sebuah kelangsungan hidup yang diharapkan, di tuntutnya untuk bekerja. Dalam mejalankan kehidupan yang sesuai dengan harapan itu, mengalami beberapa hambatan dalam perjalananya. Permasalahan ekonomi yang begitu kompleks dalam menuntun hal itu, sangatlah fundamen diperlukan. Banyak ruang yang menyediakan untuk itu semua, ada ruang yang dianggap sebagai dunia hitam dan putih. Ruang yang di pilih oleh para pekerja seks komersil misalnya, yang lebih memilih pekerjaan sebagai penjaja seks dan dunia yang dianggap banyak orang sebagai dunia hitam atau jauh dari nilai kebaikan yang berkeTuhanan.
Ada tanggapan apriostik bahwa pekerja seks komersil atau penjaja cinta adalah orang-orang pinggiran dari tindakan agama, tidak bermoral dan tak kenal akhlak. Padahal sesungguhnya mereka adalah sama sebagaimana manusia lainya, yang butuh pada keyakinan, kasih sayang, amal kebaikan dan juga keTuhanan yang misterius. Akan tetapi stigma negatif yang sudah sudah terlanjur melekat demikian kuat pada kehidupan dunia pekerja seks komersil dan dibangun secara struktural dan kultural oleh kaum agamawan yang menjadikan mereka ini orang-orang yang terbuang secara struktural dan kultural. Ironisnya lagi, panggilan terhadap pekerja seks komersil tidak secara eufisme atau penghalusan, dengan panggilan pelacur.
Panggilan atau penyebutan nama terhadap pekerja seks komersil yang biasa di tampilkan di publik dengan bahasa pelacur. Mempunyai beberapa pengertian yang sangat merugikan dan merendahkan kaum perempuan pekerja seks. Pertama, dengan kata pelacur berarti telah menjustifikasi mereka sebagai orang yang melanggar moral. Kata melacur adalah sebuah penghakiman. Ada nilai negatif tertentu yang sudah kita lekatkan pada mereka ketika menyebut mereka sebagai pelacur. Menyebut mereka sebagai pelacur adalah stigmatisasi yang terus berulang. Menyebut mereka sebagai pelacur bukanlah sesuatu yang empatik. Padahal seringkali PSK adalah orang yang menjadi korban. Aku belum pernah melakukan wawancara mendalam tentang prostitusi. Tapi sebatas yang pernah aku liput di lapangan, para PSK itu melakukan pekerjaan tersebut karena alasan ekonomi. Mereka tidak melacur. Mereka bekerja.
Kedua, sebutan pelacur juga bertendensi seksis, merendahkan perempuan. Padahal dalam banyak kasus pilihan mereka untuk bekerja di dunia prostitusi juga karena laki-laki. Terlalu klasik cerita bahwa mereka jadi PSK adalah mereka jadi korban laki-laki. Baik secara psikologis, misalnya dikhianati, atau karena ekonomi, suami tidak cukup bisa menghidupi. Selain itu tak sedikit pula laki-laki yang jadi pekerja seks komersial, bukan hanya perempuan. Maka sebutan PSK lebih netral dibanding pelacur. Ketiga, menyebut mereka sebagai PSK adalah pengakuan bahwa perempuan-perempuan tersebut adalah pekerja. Artinya mereka punya hak untuk berserikat, punya hak mendapat upah yang layak, dan punya hak untuk menentukan kehidupan mereka sebagai manusia.
Pandangan yang sudah terbentuk dalam mindset kita terhadap perempuan pekerja seks (PPS). Hanya melihat dari sudut outward appearance saja dan menafikan hal yang bersifat inward appearance. Membuat kita terkecoh dalam kenyataan tersebut. Kalau saja kita mau melihat dari sisi back stage dari kehidupan perempuan pekerja seks, yang secara residual akan menemukan sisi kehidupan aslinya bukan kehidupan yang imitatif. Maksudnya, perempuan pekerja seks melalukan sebuah akting dalan dunia pekerjaannya-menampilkan sisi front stage, bukan pada sisi asli yang lebih dalam hatinya-sisi back stage. Perempuan pekerja seks akan berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhanya yang misterius. Di dalam dunia keheningan itulah dunia pelacur harus dilihat dan dibaca. Ketika mereka menjadi dirinya sendiri dalam keheningan sosial itulah hakikat kemanusiaan seseorang pelacur akan tampak.
Kehadiran perempuan pekerja seks semakin terpojok ketika banyaknya media yang mengolak-alik laku hidupnya dengan begitu rendah, yakni sebagai pelaku dunia hitam. Perempuan pekerja seks pun acap disebut amoral, sesat, bahkan jauh dari keyakinan beragama (Tuhan). Apakah tudingan yang di berikan pada perempuan pekerja seks itu mempunyai efek yang baik untuk orang lain dan pengentasan akan sebuah pekerja seks sendiri?. Hal ini, hanya menyudutkan salah satu pihak baik sengaja ataupun tidak, ini akan menimbulkan suatu pendiskriditan terhadap perempuan pekerja seks tersebut. Tentunya, ini akan menjadi celah pencideraan hak asasi manusia atas nama moral. Pembenaran dan penerapan moral tentunya tidak bisa disalhkan secara sepenuhnya, karena hal itu merupakan perangkat yang di ciptkan oleh individu sebagai bentuk kebebasan yang merupakan hak manusia. Ha itu semua acap kali dibentuk garis jalan yang dibolding melalui hukum positif. Namun perlu memberikan teori kritis tanpa harus menelan secara mentah-mentah.
Perempuan Pekerja seks (PPS) adalah profesi bagi orang-orang yang terlempar dari pergulatan kuasa sehingga mengalami ketidak beruntungan nasib dan kehidupan yang tersudut secara sosial, budaya, dan politik. Tindakan yang mereka jalani merupakan keterpaksaan sebagai kausalitas yang kompleks melatar belakanginya. Ada bebarapa alasan yang secara umum mereka memilih tetap sebagai pekerja seks. Yaitu adalah masalah perekonomian yang sangat menghimpit mereka, ada pun hal awal mereka terjun ke dunia prostitusi itu karena hal psikologis itu hanyalah pemicu awal. Namun, hal yang tadi disebutkan masalah perekonomian menjadi alasa yang memanjangkan masa keberadaanmereka di dunia prostitusi. Perlu di bedakan tentunya, antara kata pekerja seks dan perempuan bispak atupun ayam kampus. Itu sudah sangat berbeda jauh. Karan arti dari pekerja adalah untuk mencari uang bukan hanya sekedar pelarian. Penyedian lapangan kerja yang minim di sediakan oleh aparatur pemerintah, telah menyamankan prostitusi sebagai tempat bekerja yang selalu dituding sebagi dunia yang kelam.
Di dalam setiap agama , relasi seksualitas kontraktual memang dianggapnya sebagai prilaku yang menyimpang. Dalam ajaran agama islam khususnya, aturan-aturan seksualitas sangatlah ketat. Berdasarakan pemahaman pada teks-teks suci agama, maka lahirlah seksualitas normatif dan seksualitas non normatif. Atas dasar itu pula negara mengaturnya dalam sebuah hukum positif yang melegalkan seksualias normatif dan orang yang melakukan seksualitas non normatif dianggap sebagai pihak yang melanggar hukum. Berbagai perangkat peraturan di ciptakan seperti lembaga-lembaga keswadayaan, para ustadz-ustadz di bentuk untuk mengatasi permasalahan perempuan pekerja seks. Hanya saja di sayangkan, pihak yang menjadi obyek utama incaranya adalah para perempuan penjaja seks semata. Mereka selalu dihujani dengan klaim-klaim kenistaan yang miring oleh para ustadz-ustadz bermodal sorban, selalu dikejar-kejar oleh oknum aparatur Negara, yang sebenarnya lebih lacur. Hematnya, ada kesalahan dalam akar persoalan dalam mengatasi permasalahan para pekerja seks. Ataukah memang kita pura-pura tidak mau tau akan penyebab sebenarnya, yang hanya ingin menjadikan mereka menjadi korban dari sebuah kepentingan atas nama kemuliaan musiman?. Jangan terlalu keseringan kita berbicara soal moralitas namun menghilangkan sisi kemanusian yang sebenarnya harus dijungjung tinggi.
Pekerja seks merupakan hal yang kompleks sehingga tidak mudah untuk menyelesaikannya. Akan tetapi faktanya, prostitusi tetap ada dan bahkan terus berkembang. Hal ini bukan dari sebuah perangkat yang salah saja. Tetapi, ukuran institusi prostitusi dalam meyediakan perempuan pekerja seks yang masih dibutuhkan oleh banyak kalangan. Relasi inilah yang paling abadi dalam dinamika hubungan perempuan pekerja seks. Pelanggan di era kini dan yang akan datang. Marilah mulai dari kita. Setidaknya dengan mengakui bahwa mereka memang ada. Lalu pelan-pelan mengurangi standar moral yang kita gunakan untuk mendiskusikan tentang mereka. PSK berhak mendapat pengakuan yang setara sebagai manusia, bukan dengan terus melekatkan stigma pada mereka.
Sungguh indah cara kita dalam membaca dunia tanpa prejudice dan melalui kajian relasi kemanusiaan dan perempuan pekerja seks dari sudut dramaturgi ( baca: agama pelacur). Inilah kita yang diajarkan tanpa prejudice. Sudah saatnya berlapang dada bahwa dibalik kehidupan yang gemerlap dengan nada hitam ternyata ada yang berwarna putih. Tetap saja ada mutiara didalam debu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar