Halaman

KOTA CIREBON

Sabtu, 02 Juli 2011

Berkeliling dunia lir-ilir


Berkeliling dunia Lir-Ilir
Izomudden 29 mei 2011
Tembang yang penuh dengan metafora ini, sudah jarang kita dengar sekarang ini. Tembang yang diciptakan untuk media penyebaran islam terhadap  masyarakat jawa ini sudah berusia sekitar 5 abad. Pencipta dari syair lir-ilir ini, ada yang menyebut sunan Ampel dan ada yang menyebutkan lain oleh sunan Kalijaga. Lepas dari siapa pencipta syair ini, kita harus memahami makna yang terserirat didalamnya dengan menalarkanya. Syair yang diawali dengan lirik “Lir ilir lir ilir tandure wus sumilir” yang artinya “Sayup-sayup tanaman mulai bersemi”, seperti berseminya Islam di tanah Jawa. Tak Ijo royo-royo. Tak sengguh tamanten anyar; warna tanaman itu hijau seperti hijaunya simbol Islam. Sedemikian hijaunya tanaman itu seperti pengantin baru. kedamaian dalam islam merupakan nilai untuk seluruh penghuni alam semesta pada hakikatnya. Namun sayangnya islam sekarang terkikis dengan nilai kedamaiannya, yang telah dirusak oleh segelitir orang demi sebuah kepentingan sendiri dan golonganya dengan menghalalkan segala cara bahkan pelabelan agamapun dilakukan. Islam bukanlah alat pengancam, peninndasan, teroris, pemerkosaan hak, keserakahan. Islam adalah menjungjung tinggi nilai kebebasan yang terdapat dalam otonomi manusia untuk sebuah kedamaian, ketentraman terhadap yang manusia di dunia tanpa kecuali.  Pemeluk Islam di Indonesia sekarang tidak lagi menjadi pemeluk yang masih awam seperti pengatin baru, yang masih berfikir mempunyai anak. Tapi kita sekarang sudah mendapatkan anak itu, bukan memperbanyak anak lagi yang harus diutamakan karena sudah ada program kb yang menganjurkan sedikit anak dengan membesarkanya secara maksimal dengan pendidikan, kesehatan dan perhatian dari orang tuanya. Islam sekarang bukan lagi berfikir tentang kuantitas dengan mengesampingkan nilai kedamaian tapi kualitas yang menciptakan kedamaian. Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi; anak-anak penggembala, panjatlah pohon blimbing itu. Pemimpin nasional haruslah mempunyai karakter mengemong, merangkul semua golongan untuk memesrai yang menciptakan kedamaian bangsa ini, bukan pemimpin golongan. Untuk mencapai itu haruslah mengambil buah belimbing bukan kurma ataupun kacang. Belimbing yang berigi lima, sekarang ini bisa diartikan sila lima Pancasila. Karena bangsa ini sedang membutuhkan pancasila yang harus dipahami dan dijalankan kembali oleh masyarakat bangsa ini. Seorang pemimpin sekarang harus mencapai nilai pancasila tersebut untuk landasan bangsa ini menciptakan nilai islam sesungguhnya.
Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira; meskipun licin, teruslah memanjat untuk mencuci pakaianmu. Meskipun banyak rintangan, teruslah menyebarkan nilai kemanusian, pluralisme, leiberalisme, sekulerisme yang terkandung dalam pancasila. Bukan memaksakan ideologi yang mendominasi. Dengan pancasila akan membersihkan nilai kebencian, kekerasan, kesewenangan yang bukan identitas dari islam. Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir. Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore. Mumpung padang rembulane. Mumpung jembar kalangane; jahitlah pakaianmu yang sobek, jahitlah untuk menghadapi masa depan. Mumpung masih ada kesempatan.
Implementasi Pancasila pada bangsa ini belumlah maksimal, sehingga perlu dioptimalkan. Pakaian kebangsaan dan harga diri nasionalisme, demokrasi kita sudahlah disobek-sobek oleh para pengerusak yang menjungjung penghianat dan membuang pahlawan, membela kelicikan dan mencurigai ketulusan. Kesalahan kita adalah tidak bisa membedakan antara demokrasi dan tradisi penindasan, kekerasan, kebodohan dan keserakahan. Kita harus menjahit kembali, membenahi dan mengutuhkan lagi nilai kebangsaan untuk menghadapi masa depan untuk meraih nilai islam yang sesungguhnya.
Sun suraka surak hiyo
; sambutlah ajakan ini dengan seruan “Ayo”. Kita harus menyatukan sebuah komitmen untuk mencapai kedamaian tanpa kekerasan, keserakahan, pemerkosaan hak, penjelamaan manusia tuhan yang sewenag-wenang.  Sayangnya, belakangan ini seruan “Ayo” diganti oleh kalangan Islam radikal dengan pekikan suara keras “Allahu Akbar” penuh emosi, tanpa ketulusan dan kadang justru untuk menakut-nakuti. Teriakan “ayo” seyogyanya dipahami secara filosofis dengan cara mengoptimalkan fungsi nilai Pancasila untuk kedamaian. Nilai universal islam ada pada dalam pancasila yang ramah, jangan sampai digantikan oleh nilai dominasi golongan yang berdalih paling benar dan menakutkan, meresahkan, memperkosa otonomi manusia, merobek identitas bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar